Partner : Mamah
Assalamualikum, hari ini udah mulai nih untuk praktik Komprod nya, sebenernya ingin sekali bikin family forum tapi kok kayanya canggung karena kebiasaan keluargaku yang memang agak kaku untuk membicarakan hal-hal serius dalam satu lingkaran kecil, padahal sebenernya bisa aja sih tapi saya masih merasa canggung (padahal sama orang tua sendiri ya haha). Insha Allah kalau memang hati sudah mantap dan ada kesempatan yang pas bisa dilakukan family forum tapi memang tidak se formal yang dibayangkan, semoga bisa yaa hehe.
Ya, partner latihan hari ini adalah Mamah, sebenernya pas pagi itu masih bingung gitu siapa ya yang akan dijadikan partner untuk practice komprod nya. Tapi memang qadarulloh hari ini ada kejadian kecil dan sepele yang bisa aku jadikan media latihan. Jadi begini, ceritanya dimulai dari saya yang hampir kesiangan masuk kerja sampe hectic bungkusin sarapan buat di klinik sampe ga menghiraukan apa yang dibilang sama mamah saya (lebih tepatnya bukan ga menghiraukan sih, tapi lebih tepatnya ga kedengeran karena saya sedang ga fokus). Hari ini merupakan harinya Mamah saya kontrol bulanan ke RS, tapi karena saya buru-buru buat berangkat kerja jadi tidak menyadari hal itu. Alhasil, pergilah saya ke tempat kerja. Hari ini ada 1 jadwal kontrol pasien dan pagi (nah ini yang bikin buru-buru haha), jam setengah 10 saya selesai perawatan pasien tersebut lalu saya langsung cuci alat. Ketika saya cuci alat bekas perawatan, handphone saya berdering, dari kejauhan saya lihat bahwa mamah saya yang telpon. Karena keadaan tidak memungkinkan untuk angkat telepon, akhirnya saya biarkan dahulu telepon nya dan menyelesaikan cuci alat dulu. Setelah saya selesai mencuci alat, saya telpon balik mamah saya (dan sudah ada firasat, saya lupa bawa surat kontrol amah saya untuk di daftarin). Kemudian saya angkat.
Asti : "Assalamualaikum Ma?"
Mamah : "Waalaikumsalam, ari asti ieu surat kontrol mamah naha nteu dibawa?" (Artinya : Waalaikumsalam, ih asti ini kok surat kontrol mamah kenapa ga dibawa). (Dengan nada yang lumayan tinggi karena mungkin kesel)
Asti : "Ya ampun abi lupa ma, emang tadi mamah bilang nya?" (Artinya : Ya ampun aku lupa ma, emang tadi mamah bilang ya?). (Berusaha tetap stay cool dengan tidak terlalu mengambil hati dan mengontrol intonasi suara)
Mamah : "Kan tadi cek mamah ge eta surat kontrol di deket TV, teu diperhatikeun meuereun." (Artinya : Kan tadi mamah bilang juga itu surat kontrol di deket TV, ga diperhatiin kali ya). (Dengan ekspresi sedikit dongkol).
Sebenernya aku ga merasa bahwa mamah bilang seperti itu atau mengingatkan tentang surat kontrol, tapi mungkin memang aku yang sedang tidak fokus karena terburu-buru. Percakapan kembali berelangsung.
Asti : "Oh iya meureun tadi teu kadengeran, yaudah sok kadieukeun atuh ka si teh ina, engke ku abi di daftarkeun ka RS." (Artinya : oh iya kali ya tadi ga kedengeran, yaudah siniin sama teh ina, ntar aku yang daftarin ke RS nya). (Dengan tetap menjaga intonasi suara agar tidak membludak, padahal biasanya aku selalu terpancing untuk meninggikan suara kalau merasa disalahkan).
Mamah : "Yaudah." (Langsung menutup telepon nya)
Sebenernya agak gimana gitu, wah mamah marah nih. Tapi dari percakapan telepon yang singkat ini aku menyadari bahwa dari sudut pandang mamahku bisa jadi beliau merasa kesal karena saya tidak menghiraukan perkataannya, dari sudut pandangku bisa saja aku berfikir "ah aku ga salah, ga ngerasa di suruh bawa surat kontrol kok" tapi aku lebih memilih untuk menggunakan kaidah 7-38-55 yaitu memperkecil peluang emosi untuk digunakan saat percakapan, merendahkan intonasi suara dan menggunakan body language yang tenang walaupun sebenarnya posisi saya dan lawan bicara sedang tidak berhadapan, tapi saya posisikan seperti Mamah saya sedang berada di depan saya. Karena body language juga bisa mempengaruhi naik turunnya intonasi suara.
Setelah beberapa saat aku telepon lagi mamahku untuk menanyakan nanti berangkat kontrol jam berapa, dan saat aku telepon nada suara beliau tidak setinggi ketika pertama kali di telepon. Jadi udah biasa aja, bahkan sampe mintain jemput pas pulang kontrol sekalian ulang hehe gapapa sih. Tapi emang benar sih ketika lawan bicara kita sedang mengedepankan emosi daripada nalarnya, maka jangan kita lawan dengan emosi lagi. Daan pemilihan timing juga penting, choose the right time itu bener-bener bisa kita terapkan, its work bangeeet.
Semangat untuk terus belajar, practice makes perfect :)
Semangat untuk terus belajar, practice makes perfect :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar