Senin, 30 Oktober 2017

Hidup adalah Ujian dari Kesaksian

Assalamualaiku, ukhti fillah :)
 
Kali ini tiba-tiba ingin me-recall kajian yang dulu sempat saya ikuti. Majelis kecil sih, seingatku ada sekitar 15-20 orang akhwat yang hadir tapi sungguh MENAMPAR *plakk hahaha. Gimana engga, temanya tentang hidup adalah ujian kesaksian, dan aku baru ngeuh nya ketika itu (Astaghfirulloh :( sedih rasanya. Karena kebanyakan dari kita tidak memahami apa yang terjadi sebelum kita lahir ke dunia ini, sehingga tidak jarang kita menemukan manusia-manusia yang kehilangan arah :(.
 
Awalnya yang kebanyakan kita pahami bahwa fase mahluk hidup (manusia) itu terdiri dari 3 fase yaitu hidup-mati-hidup. Tapi ternyata ada satu fase yang terpenting dan itu tidak semua orang mengetahuinya, jadi inilah fase kehidupan manusia mati (saat berada di rahim Ibu kita)-hidup (saat berada di dunia)-mati (saat berada di Alam Barzah)-hidup (saat berada di alam akhirat). Fase pertama yang dilalui manusia adalah fase mati (saat berada di dalam rahim Ibu kita) saat Allah memberikan ruh pada janin maka disana terjadilah sebuah perjanjian antara Allah dan si Janin (kita, si calon bayi yang akan lahir ke dunia). Apa isi perjanjian itu? Sakral sekali kah sampai-sampai sakralnya melebihi ijab qabul? #eh. Yaps, pada saat itu Allah tanyakan pada si Janin siapakah Tuhanmu?, lalu si janin yang masih suci menjawab sudah tentu Allah Tuhanku, kemudian Allah bertanya kembali siapa Nabimu?, kembali si janin menjawab Muhammad lah nabiku. Setelah kejadian itu Allah memberikan kita lupa terhadap perjanjian tersebut. Hayoo, emang ada yang masih ingat kejadian itu? Saat kita bersaksi bahwa Allah lah Tuhan kita dan Muhammad adalah Rasul kita, masih adakah yang ingat? Tidak ada yang ingat sama sekali, bahkan ulama sekalipun. Lha kenapa? Katanya bikin perjanjian tapi kok malah bikin kita lupa?
 
Saat kita lahir ke dunia ini dengan polos nya, apakah kita masih ingat perjanjian kita dengan Allah saat masih berada di Rahim Ibu kita? tidak kan, nah itu lah ujian bagi kita akankah selama kita hidup di dunia berperilaku sesuai dengan janji kita pada Allah. Kalau kita bersaksi bahwa Allah adalah tuhan kita, maka segala tindak tanduk kita di dunia ini dilakukan karena Allah, kita selalu meyakini bahwa Allah selalu mengawasi kita, kita selalu menerima dan meyakini bahwa apa yang Allah tetapkan untuk kita adalah yang terbaik untuk kita. Daaan, kalau kita bersaksi bahwa Muhammad Rasul kita maka kita akan senantiasa meneladani sunnah-sunnah Rasululloh SAW, yang nantinya akan berdampak pada bagaimana kita berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
 
Dunia itu bagaikan surga yang tidak nyata bagi sebagian orang, ya tidak nyata karena bisa jadi dunia ini membahagiakan, melenakan tapi sifatnya tidak kekal, ada masa berakhirnya. Tentu kita mengalami apa saja yang terjadi di dunia, ada yang hidup berkecukupan namun jauh dari rasa Syukur, ada yang hidupnya pas-pasan tapi hatinya penuh syukur, ada yang lurus-lurus aja gak mikirin kehidupan selanjutnya atau gimana, ada yang hidup seenaknya dan berbagai macam cara manusia hidup di dunia. Yang jelas kita hidup di dunia ini untuk mencari bekal untuk di akhirat kelak. Karena masuk syurga itu ga gratis, masuk toilet aja bayar 2000 yang notabene cuma buat buang kotoran. Apalagi syurga, yang didalamnya terdapat banyak nikmat, kedamaian, di dalemnya segala ada dan bikin betah yang tinggal disana, mana mungkin cuma dihargai 2000 rupiah kaya ke toilet? Atau bahkan ada yang mikir bisa masuk syurga secara cuma cuma? Heeey, ngaca dulu sebelum ngomong hehehe.
 
Kebanyakan dari kita terlena dengan kehidupan dunia, sampai-sampai lupa mempersiapkan kehidupan yang sebenernya paling kekal yaitu kehidupan akhirat. Banyak seminar-seminar Pra-Nikah tapi ga banyak seminar-seminar Pra-Akhirat hehe. Kaum muda yang udah kebelet nikah (eh siapa haha) mantap berkata In Shaa Allah saya sudah siap menikah, tapi jarang yang mantap berkata Ins Shaa Allah saya sudah siap mati. Dan kebanyakan dari kita takut mati, bahkan membicarakannya saja sudah cukup membuat merinding, karena apa? Karena kita kurang cukup bekal untuk mempersiapkan kematian dan kehidupan setelah mati. Semoga dalam keadaan apapun kita, kita selalu berada pada jalan NYA, sehingga saat di alam kubur ditanya malaikat Munkar Nakir Man Robbuka? (Siapa Tuhanmu?) maka kita sudah mantap menjawab ALLAH. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari perbuatan yang keji dan munkar, semoga kita bisa menepati janji terbesar kita kepada Allah (Kesaksian Syahadat) :)
 
Jangan pernah lelah untuk berproses :)
Wallahu 'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melatih Kemandirian Day 7

Mempersiapkan bekal sendiri Assalamualaikum bunda dan calon Bunda, alhamdulillah udah masuk Day 7. Tapi kali ini hari minggu, dan aku li...