Senin, 11 Desember 2017

Melatih Kemandirian Day 7

Mempersiapkan bekal sendiri


Assalamualaikum bunda dan calon Bunda, alhamdulillah udah masuk Day 7. Tapi kali ini hari minggu, dan aku libur bekerja. Namun aku punya agenda bersama teman kerja ku untuk jalan jalan di Bandung. Aku menantang untuk mempersiapkan perbekalan ku untuk jalan-jalan (karena kebetulan sekarang sedang diet, jadi ga bisa makan sembarangan). Dan alhamdulillah berhasil yeaaay. Walaupun tantangan terbesarnya adalah menahan untuk tidak makan sembarangan padahal jajanan begitu menggiurkan hahaha. Tapi kan yang jelas aku mempersiapkan makananku sendiri saat akupun tidak ada di rumah :)

Jumat, 08 Desember 2017

Melatih Kemandirian Day 6

Mempersiapkan Bekal Kerja Sendiri

Assalamualaikum, alhamdulillah hari ini bisa persiapin bekal sendiri, soalnya jam 6 udah mandi karena keramas. Rasnya kalo paginya diawali sama hal positif, kesana nya jadi rnak hahah. Ya Allah ini masih naik turun, maaih perlu pembiasaan. Semangaaaat😍

Melatih Kemandirian Day 5

Mempersiapkan bekal kerja sendiri

Assalamualaikum, hari ini agak keteteraaaan, tidaaaak. Apa yang salah? Yang salah adalahabis subuh tidur lagi ><. Maksud hati mau bangun lagi jam 6 tapi ternyataaaaaa.... Besok besok haram buat tidur lagi, semangat aaah 😍

Melatih Kemandirian Day 4

Mempersiapkan Bekal Kerja Sendiri

Assalamualaikum, alhamdulillah challege day 4 success hahaha. Butuh motivasi yang kuat buat melakukan pembiasaan, semoga selalu istiqomah sampai challenge nya berakhir yaa aamiin 😊

Rabu, 06 Desember 2017

Melatih Kemandirian Day 3

Mempersiapkan Bekal Kerja Sendiri


Assalamualaikum, maafin baru setor :( sebenernya karena gak semangat untuk laporin nya karena merasa gagal challenge di hari kemarin. Kemarin habis shalat subuh malah tidur lagi >< jadinya bangun bangun jam 7 dan perbekalan udah disiapin semua sama mamah. Ngerasa gagal tapi jadiin pembelajaran aja, jangan sampe kaya gitu lagi 😭😭😭😭

Senin, 04 Desember 2017

Melatih Kemandiruan Day 2

Menyiapkan Bekal Kerja Sendiri


Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda, masuk Day 2 Challege nih. Kemarin keluargaku baru tertimpa musibah, kakak Ayahku meninggal dunia, semoga amal kebaikan Almarhum diterima disisi Nya, dan diampuni segala dosanya Aamiin Allohumma Aamiin. Jadi kemarin agak hectic dan pulang ke rumah jam 11 malam. 

Tadi pagi lemeees sekali karena memang cape kemarin, tapi aku tetap memaksakan diri untuk berusaha menyiapkan perbekalanku sendiri. Setelah shalat subuh, langsung aku isi botol-botol air untuk cebok dan botol-botol minum untuk minum, lalu menyiapkannya dalam satu goody bag. Alhamdulillah mission complete ya, sederhana dan simpel namun perlu pembiasaan. Insyaa Allah kedepannya, challenge nya yang lebih menantang. Semangaaaat

Perubahan dimulai dari hal-hal yang kecil, jadi jangan malu untuk terus berproses 😍

Minggu, 03 Desember 2017

Melatih Kemandirian Day 1

Menyiapkan Bekal Kerja Sendiri Day 1

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda. Sampai juga akhirnya ke game level yang ke 2 walaupun sebenarnya keteteran karena belum bisa memanage waktu dengan benar. Ga apa apa, kita mulai hari ini. Semangaaaat. 

Sebenernya agak nyeleneh ya, tantangannya "Menyiapkan bekal kerja sendiri" haha. Kenapa sih ambil tantangan ini, itu kan hal simple yang bisa dikerjakan sendiri? Soalnya kupikir, memang sangat simple dan tinggal lakuin aja sendiri. Tapi kalo motivasi nya ga to the max dan ga ada penyemangat kaya gini kayanya bekelku tiap hari bakal di siapin mamahku terus deh haha. Makanya Alhamdulillah nih, ada momment buat melatih kemandirian ini. 

Setiap kali aku kerja, Mamahku biasanya yang menyiapkan bekal makanan ku untuk kerja, termasuk bekal air untuk cebok (karena di tempat kerja, airnya agak ga bersih gitu, jadi harus bawa air cebok dari rumah).  Pokonya setiap kali mau berangkat kerja itu udah ready, udah tinggal jinjing. Padahal itu hal simpel kan tapi kenapa aku ga lakuin sendiri? Jawabannya karena malas hahahah. 

Nah hari ini, alhamdulillah nih udah mulai menyiapkannya sendiri. Dari mulai ngisi botol-botol buat air cebok, ngisi botol buat minum (FYI : saya bekel air ke tempat kerja itu 3liter hehe),  kemudian siapin bekal makan juga sendiri. Alhamdulillah nikmat, kemandirian itu diusahakan dari diri sendiri. Tidak melulu harus perubahan yang besar, tapi dimulai dari perubahan yang kecil-kecil hihi. 

Semangat untuk berproses 😍

Selasa, 14 November 2017

Komunikasi Produktif Day 10

Partner : Olin

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Absen beberapa hari nih 😐😣 . Tali gapapa, lanjut aja nulisnya hehehe. Partner kali ini adalah Olin lagi hehehe. Seneng sekali ngobrol sama dia aku menerapkan beberapa semacam peraturan atau peringatan hahaha. 

Jadi begini ceritanya, Olin kan lahir dan dibesarkan sampai 7 tahun di Kalimantan Timur, tapi pas SD dia pindah ke Garut. Jadi memang butuh prnyesuaian, terlebih lagi anak kecil mudah sekali menangkap dan memproses bahasa karena pergaulan. Awal-awal di Garut, dia selalu mengikuti kata-kata yang di ucapkan teman-temannya padahal itu kasar, kemudian saya langsung memberikan noticed kepadanya bahwa itu bahasa kasar. Kemudian saya selalu menerapkan untuk selalu menggunakan doa sehari-hari dalam activity daily living misalnya ketika bersin, ketika makan, ketika keluar masuk kamar mandi, ketika hujan, ketika ada petir dan lainnya. 

Setiap kali kami mengobrol, lalu dia menggunakan kata yang kami anggap itu kata kata yang termasuk dalam noticed list misal "heeh" (iya),  saya langsung berkata "heeh? " kemudian dia langsung mengklarifikasi "muhun (iya dalam bhasa sunda halus) ". Dan tidak jarang saya juga di noticed oleh dia kalo menggunakan kata-kata yang termasuk noticed list words πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚, kadang suka lucuk jadinya. 

Kemarin cuaca sore hari hujan, dia kemudian bertanya pada saya, "Bi Asti kalo doa waktu hujan tuh gimana? " kemudian saya membantu mengingatnya "Allahumma Soyyiban Nafi'a". Begitu pun ketika ia bersin, kita harus membalas doanya, lucuk dan saya senang ternyata itu berhasil bisa ia terapkan di kehidupan sehari-hari. Maka membiasakan adalah tugas orang tua untuk anak-anaknya. Jadi ga sabar ingin punya anak hahaha. 

Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😊

Jumat, 10 November 2017

Komunikasi Produktif Day 9

Partner : Mamah

Assalamualikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Hari ke 9 ini kembali partner latihan nya mamah saya. Kalo ikutin emosi, kayanya pas banget dengan hari ini yang pas pulang kerja hujan gede, kebasahan semua dan lain-lainnya. Ditambah pas di rumah merasa "tersalahkan" hahaha. 

Jadi gini, kadang-kadang sepulang kerja saya menjemput Bapak saya ke tempat kerjanya. Bapak saya sudah bawa helm dari rumah. Waktu aaya pulang ke rumah, mamah saya bilang "lah ga bareng sama bapakmu? Emang kakakmu ga ngingetin?". Sontak saya kaget. Waduuh apa saya yang lupa atau kakak saya yang lupa. Tapi sejenak saya tidak menghiraukan dulu perkataan Ibu saya karena keadaan basah kuyup, saya langsung menuju ke kamar mandi. Padahal di kamar mandi sambil mikir hahaha. 

Sebenernya kalo ga di menej, hati ini bisa aja meledak-ledak ga karuan, udah mah keujanan malah di salahin hahaha. Tapi saya coba menghindari dulu percakapan dengan ke kamar mandi karena emang basah kuyup. Setelah selesai personal hygine saya keluar dan menjelaslan kalau hujan bapak pasti gamau dijemput, karena waktu itu juga pernah kejadian seperti ini (hujan besar) dan bapak menolak dijemput. Mamah saya masih mengomel karena takutnya bapak saya masih nunggu. 

Akhirnya saya beri saran untuk telp bapak, untuk memastikan bapak kalo bapak ga nunggu. Dan akhirnya setelah di telepon, bapak memang ga nungguin. Sesimple itu komunikasi bisa jadi sumber masalah dan perselisihan, dan sekecil itu bisa jadi media pembelajaran untul terus bersabar dan mengelola hati. Karena semakin lama orang tua kita juga semakin tua, dan emosinya semakin sensitif sehingga sebagai kita sebagai anak kita yang harus lebih mengerti 😊

Semangat untuk mengasah, practice makes perfect 😊

Kamis, 09 November 2017

Komunikasi Produktif Day 8

Partner : Olin

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Gak terasa ya udah masuk ke hari ke 8 aja, hari ini partner latihan komprod nya adalah Olin lagi hahaha. Karena memang aku paling senang berinteraksi dengan dia di rumah. Lumayan pelipur hati pelipur lara πŸ˜‚

Mamahku di rumah buka warung kecil-kecilan yaa lumayan tambah kesel laah. Nah mamahku bilang dari siang Olin ngambilin es terus, mamah minta aku yang memperingatkan Olin. Akupun langsung eksekusi. Aku mengajak Olin ngobrol seperti biasa, santai aja. "Iiiih kamu kata Nenek dari siang jajan es terus yaaa? Hayoo ngaku.." sengaja saya membuat percakapannya santai saja. Lalu dia hanya senyum kaya anak yang kepergok πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ "hehehe iyaaa....". Saya pun kembali menanggapi "kok masih makan es, padahal kemaren-kemaren udah sering mimisan berapa kali tuuh, tau ga penyebab hidungnya Olin berdarah kenapa?". Lalu dengan polosnya dia menjawab "karena panas-panasan kalo main".

Saya kemudian kembali meluruskan "Nih ya, bia Asti juga dulu waktu kecil sukaaaa sekali makan es soalnya enak, tapi makannya ga banyak-banyak soalnya Bi Asti tau kalau banyak-banyak ga baik, nanti bisa lebih sering pilek, dulu Nenek juga sering ingetin Bi Asti tapi Bi Asti nurut, akhirnya ga terlalu serong deh hidung nya berdarahnya". Aku berkata seperti itu sambil merendahkan intonasi suaraku dan tidak melepas kontak mata dengan nya, tentunya dengan ekspresi yang meyakinkan. Kemudian dia bertanya lagi "Oh jadi kalau nurut sama Nenek ga berdarah lagi hidungnya?" (dia bertanya dengan polosnya πŸ˜‚). Akupun sembari menahan tawa menjawab "Iya dong, karena Bi Asti tau nenek ga akan melarang kalau itu baik buat Bi Asti, gitu juga nenek ke olin".

Sejenak si dia berfikir lalu berkata "iya olin juga mau nurut sama nenek biar hidungnya ga berdarah'. Hahahaa pengen ketawa dengernya, tapi dia sudah membuat kesepakatan yang katanya dia mau nurut sama nenek. Walaupun kadang kalo kumat, nanti dia pasti pura2 lupa atau pura2 ga dengar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Yaa namanya juga anak-anak harus terus latihan untuk pembiasaan. 

Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😊

Rabu, 08 November 2017

Komunikasi Produktif Day 7

Partner : Pasien dan Keluarga Pasien


Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Hari ini partner komprod nya bukan dari anggota keluarga, tapi dari pihak yang memang bersinggungan dengan saya yaitu Pasien dan Keluarga Pasien. Karena profesi saya sebagai perawat luka, maka setiap hari saya bertemu dengan pasien dan melakukan komunikasi dengan pasien. 

Pasien saya mempunyai luka diabetes dengan penyulit pembuluh darah. Sehingga perlu untuk melakukan komunikasi guna meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai prognosis luka nya. Saya menyarankan pasien dan keluarga untuk konsul ke dokter bedah vaskuler (pembuluh darah) karena pasien terdapat penyulit pembuluh darah. Namun pasien dan keluarga mengatakan belum bisa ke dokter bedah vaskuler karena faktor keuangan. Saya mengerti, dan saya berusaha untuk menunjukan sikap empati kepada pasien sebagai perawatnya sambil saya melakukan kontak mata untuk meningkatkan trust. 

Sebumnya saya pernah konsul kepada senior saya mengenai luka arterial (dengan penyulit pembuluh darah arteri) namun keluarga tersandung faktor keuangan tidak bisa ke dokter bedah vaskuler. Senior saya pun menyarankan untuk makan tinggi protein dan omega 3 untuk menbantu kelancaran sirkulasi darah. Akhirnya saya menyarankan saran senior saya kepada pasien saya dengan intonasi nada yang lembut namun tidak terkesan mrmaksa. Dan akhirnya saya menyarankan pasien dan keluarga memutuskan untuk ke dokter penyakit dalam terlebih dahulu, minimal untuk dapat antiniotik karena lukanya infeksi juga. Alhamdulillah pasien dan keluarga mengikuti saran saya dengan berbekal surat konsul dari saya. 

Hal-hal kecil sangat penting di komunikasikan apalagi dalam tataran pelayanan kesehatan. Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😊

Selasa, 07 November 2017

Komunikasi Produktif Day 6

Partner : Bapak

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Alhamdulillah untuk Day 6 ini partner untuk Komprod nya adalah Bapak. Sebenernya agak canggung sekali, karena kami berdua bukan tipe yang senang membicarakan sesuatu berdua. Makanya ini langka terjadi dan mommen nya jadi mommen yang berharga hihi. 

Pagi-pagi saya sedang melihat marmut peliharaan keluarga kami yang beberapa hari lalu baru beranak 2 ekor, lucuuuuk sekali. Bapak saya memang senang sekali sama marmut itu, bahkan sampe dicium-cium saking gemesnya πŸ˜‚. Nah waktu saya sedang liatin marmut-marmut itu datanglah bapak saya menghampiri. Pikir saya, saya harus memulai obrolan nih. Akhirnya saya memulai obrolan dengan "Ih lucuuu si Ona sama si Oni (anak marmut yang baru lahir), ini tuh dia lahiran nya kayanya malem-malem ya pak? " saya sengaja membuka percakapan dengan kalimat terbuka agar komunikasinya bisa dua arah. Bapak sayapun menanggapi dengan antusiasnya, karena memang tiap kali di tanya trntang marmutnya bapak saya selalu antusias. "Iya, tiba-tiba pagi udah ada, lagi makanin rumput, tuh liat tuh kaya gitu" jawab Bapak saya dengan semangat. 

Saya pun tidak berhenti sampai disitu, saya K mbali membuka percakapan terbuka "Tapi si Oni tuh bener-bener mirip bapaknya ya pak hahaha", bapak saya pun kembali merespon "Iya, kalo si Ona mirip banget sama Ibunya, nanti semoga bisa makin banyak, ntar bikin kandang yang lebih gede". Lalu saya timpali, "iya nih ini ber4 ga muat liat aja cuma segede gitu hahaha" dan bapak saya hanya tertawa melihat si marmutnya pada masuk ke kandang dalamnya waktu saya bilang itu. 

Buat saya, sulit sekali untuk memulai obrolan hangat dengan Bapak berdua, harus ada partner pihak ketiganya. Misalkan mamah atau Olin, jadi obrolan nya tuh ga canggung gitu. Kami (anak-anak mamah dan Bapak) memang tidak terlalu akrab dengan bapak sejak kecil karena memang watak bapak saya yang keras jadi kami segan. Ini jadi pelajaran juga untuk saya sih bagaimana nanti saya membiasakan membangun komunikasi dengan anak saya. 

Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😊

Senin, 06 November 2017

Komunikasi Produktif Day 5

Partner : Olin (Ponakan) 

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😍
Alhamdulillah gak kerasa ya udah masuk Day ke 5, kali ini partner nya Olin lagi hehe gapapa lah sembari latihan yaa 😁. Kebiasaanku kalau menghabiskan free time di malam hari salah satunya adalah bercerita sama Olin. Setelah ikut workshop mendongeng Kak Mul pas wisudaan matrikulasi batch 4 Garut jadi selalu semangat buat mendongeng walaupun ga se ekspresif Kak Mul hehe, tapi yang penting aku ingin menyampaikan isi dan hikmah nya. 

Hari ini saya, mamah dan kakak saya shaum. Beda-beda tujuan shaumnya tapi iftharnya ttep bareng hehehe. Sesudah ifthar dan makan bersama kami berkumpul di ruang tengah rumah, yaa sekedar bercerita dan menertawakan apa yang bisa di tertawakan. Termasuk, ibu saya yang memutar video lucu yang dikirim di grup keluarga besar, bapak saha sampe ketawa terpingkal-pingkal, saya yang liatnya jadi pengen ketawa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Saat-saat seperti ini jadi mommen yang berharga buat saya 😍. Setelah video lucu itu selesai diputar, bapak saya mengganti ke video lain, yaiyu video tentang proses kematian dan hari kiamat,  bapak saya dan Olin menontonnya. Saya hanya mengamati saja, lalu saya berfikir, ada sesuatu yang bisa di selipkan dari video tersebut buat Olin dan juga buat pengingat untuk saya.

Setelah mereka selesai menonton video, Olin bertanya-tanya seputar videonya, terutama video bencana (kiamat shugro). Lalu saya ceritakan tentang proses kejadian kiamat kepadanya, kemudian bagaimana kehidupan setelah dunia, yaumul hisab, surga dan neraka walaupun belum tahu persis seperti apa karena belum pernah mengalami haha. Setelah bercerita selesai, karena saya belum shalat Isya, dan itu sudah pukul 19.30. Saya pun ingin mengajak Olin shalat Isya namun tidak dengan memaksanya, melainkan dengan membangun kesadarannya (kebetulan kan baru diceritain tuh proses hari kiamat dsb haha). Saya pun berkata "waduuuh Bi Asti belum shalat Isya, Bi Asti sahalat Isya dulu biar bisa masuk syurga". Sontak respon Olin pun apa coba?  "Olin juga mauu, Olin dulu Bi Asti". Aku menyeringai kesenengan melihat kelakuan nya, Alhamdulillah berarti kegiatan berceritaku membuahkan hasil, minimal membangun kesadarannya. Soalnya kadang dia cuma shalat Magrib (berjamaah di rumah dan Ashar kalo di sekolah agamanya hahaha dasar anak kecil). 

Aku ingin membangun awareness nya Olin lewat ceritaku (tapi bukan cerita yang mengada-ngada yaa, ceritanya bisa kita ambil hikmah dari siroh nabawiyah maupun shohabiyah), karena cerita juga bisa dijadikan jalan dakwah. Dan ternyata alhamdulillah, bisa jadi tidak bertahan lama namun harus selalu kita latih agar anak terbiasa. Menurutku ngobrol lewat bercerita juga salah satu bentuk komunikasi produktif, karena kita bisa menyampaikan maksud kita dalam bentuk yang lebih menarik, sehingga anak bisa menyerapnya dengan lebih mudah dan tanpa paksaan 😍.

Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😍

Minggu, 05 November 2017

Komunikasi Produktif Day 4

Partner : Olin (Ponakan) 

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Wah untuk day 4 ini agak keteteran nih hehe, masih perlu belajar manajemen waktu tapi gapapa sambil berjalan ajaa. Hari ini partner nya Olin lagi, ponakanku hehehe. Karena memang lebih banyak interaksi dengan dia, kadang seneng jailin wkwk. 

Pagi-pagi Olin udah ngajakin terus ke Kherkof (pasar minggu gitu), sebenernya maleees banget buat pergi karena mau menikmati hari libur, menghindari keramaian dulu #tsaaah. Tapi kakakku tetep maksa aku untuk pergi nemenin olin, yaah apa daya soalnya kasian juga dia pengen jalan-jalan, pasti dia pengen maen pasir disana fikirku. Akhirnya cuuus lah kami ke kherkof. 

Ketika di perjalanan, aku membuat kesepakatan dengan Olin. Aku bilang "Sekarang bi Asti temenin, tali Olin nanti jangan rewel, jangan mau jajan macem-macem, kalau bi Asti bilang ga boleh harus nurut ya". Lalu dengan wajah penuh keyakinan dia menjawab "Iya". Aku berusaha aja untuk percaya, walau kadang dia suka tiba-tiba lupa kesepakatan di awal pas di lokasi tuh hahaha. 

Sampailah kami di lokasi, aku memarkir motor di luar lokasi, tepatnya depan Alfamart hehe karena malas parkir di dalam, penuuuh banget. Akhirnya kami menyebrang, sebelum masuk ke pintu masuk, ada bapak-bapak penjual buku mewarnai. Karena tau Olin suka mewarnai, bahkan dia berbakat loh kalo mewarnai rapiiiii banget. Aku berhenti di depan penjual nya, kemudian aku tawari dia mau ga? Dengan wajah kegirangan di mengangguk mau, iyalah udah pasti mau soalnya kesenengannya dia kan mewarnai hahaha. Lalu aku menanyakan harga bukunya,dan deal dengan harga 5.000 dapat 3 buah cihuuuy lumayan.

Saat Olin asyik pilih buku yang mana aja yang mau di beli, aku bikin kesepakatan lagi. "Olin, karena udah beli buku gambar ini, gimana kalo kita ga usah masuk? Biar kita bisa langsung pulang, Olin juga bisa cepet-cepet mewarnai, gimana? ". Sebenernya bukan apa-apa sih, karena aku malas berdesak-desakan di dalam hadeuuh hahaha. Tapi ponakan ku ini juga menyetujuinya Alhamdulillaaaah πŸ˜ƒ.

Selepas selesai beli nuku mewarnai, kami pun lekas kembali ke tempat parkir, lalu dia tiba-tiba bilang "Bi Asti, ayo beli sesuatu buat mamih, Olin tuh mau Bi Asti dan Mamih bahagia. " mendengarnya saja aku ingin ketawa, kadang dia tuh suka lebay dalam kata-kata kalau hatinya senang macam gini hahaha. Akhirnya kami beli beberapa lotong martabak mini untuk dibawa ke rumah.  Dan ketika di rumah aku ceritakan kejadian ini pada kakaku, dan dia juga ketawa-krtawa lucu aja gitu hihi.

Seneng sih bisa berinteraksi dengan anak kecil, walaupun itu ponakan, apalagi anak sendiri #eaaa heeheh. Kadang sih kalau berkomunikasi sama anak kecil kita harus selalu inget sama materi komprod biar emosi nya ga langsung tiba-tiba melejit hehehe. Pembuatan kesepakatan yang bersifat pilihan juga lumayan membantu untuk mengarahkan si kecil hehe. 

Semangat untuk terus mengasah,  practice makes perfect 😍

Sabtu, 04 November 2017

Komunikasi Produktif Day 3

Partner : Teman Kerja (Via Grup Whats App)


Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda :)
Di game level 1 hari ketiga ini aku memilih untuk mempraktikan komunikasi produktifku dengan teman kerja (via grup di whats App) karena kami tersebar di unit-unit di kota-kota jawa barat. Sebetulnya grup ini beranggotakan teman kuliah yang di takdirkan Allah satu lapangan pekerjaan, walaupun kota nya berbeda-beda. Kami adalah perawat luka yang memberikan pelayanan kesrhatan berupa perawatan luka diabetes. Jadi paling yang paling banyak di bahas di grup itu yaa tentang luka perlukaan dan curcolan-curcolan cantik hihi.  

Tadi tiba-tiba siang menjelang sore, temanku D mencurahkan kekecewaan nya setelah dia membeli durian, dan ia agak kecewa (wajar manusiawi sih). Saat aku membaca D posting itu, sontak aku teringat kejadian yang baruuuuu saja (masih anget banget) saya alami. Sebuah kekecewaan tidak berfaedah kalo kata anak muda zaman Now hehehe. Aku pun menceritakannya di grup itu. 


Kira-kira seperti itulah aku menanggapinya. Bersyukur siih ada tempat untuk mencurahkan isi hati, walaupun apa yang kita alami itu hal sepele tapi kalau hati lagi gak terima yaa bisa beda rasanya. Intinya saat kejadian itu Nalarku sedang berada di tingkat terendah, dan emosi sedang berada di puncaknya haha. Yang aku rasakan setelah mencurahkan isi hati disana ploong, kemudian aku mengajak teman-temanku juga untuk sama-sama belajar mengelola emosi. Karena sebenarnya hal-hal seperti ini orang-orang sudah tahu ilmunya. Contohnya saja aku, padahal udah pernah dikasih di materi Bunsay yang pertama, tapi praktiknya? Masih harus terus latihan. Dan latihan itu butuh partner, partner untuk apa? Untuk saling mengingatkan 😊. Kalau ga mereka yang meningatkan, ya aku yang meningatkan mereka. Jadi saling mengingatkan untuk terus berfikir positif 😍.

Semangat untuk mengasah, practice makes perfect 😍

Jumat, 03 November 2017

Komunikasi Produktif Day 2

Partner : Ponakan (Olin) 

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda :)
Di hari ke 2 game level 1 ini saya memilih ponakan sebagai partner untuk praktik komprod karena memang di rumah ponakan saya tinggal di rumah orang tua saya, jadi lumayan bisa dijadikan partner, lumayan itung-itung praktik sama anak sendiri. Ponakanku ini usianya 7 tahun, sedang masa-masanya senang bermain. Sepulang sekolah SD main, sepulang madrasah diniyyah sore main lagi, kadang harus sedikit dipaksa buat pulang bahkan kami tidak jarang berteriak bahkan menakut-nakuti πŸ˜‚ (jangan ditiru yaa) 

Ya, olin ini anaknya aktif dan rasa penasaran nya tinggi. Kalau sama teman-temannya sekarang dia lagi musim main "sonlah" kalau di sunda, kalau bahasa Indonesia nya apa ya hehe. Jadi kalau di rumah pun dia maeeen sonlah terus sampe aku, mamahku, bapaku bahkan mamahnya berapa kali mengingatkan untuk diam tapi rasanya dia kaya ga denger πŸ˜‚

Butuh taktik untuk bikin olin nurut, sebelum-sebelumnya biasanya kalau dia ga nurut kami menakut-nakuti nya dengan hantu (jangan ditiru yaaa hehe) tapi sekarang mulai diterapkan untuk tidak memakai taktik itu lagi, karena akibatnya dia jadi sedikit penakut. Karena Olin anaknya excited sekali kalau dikasih reward, maka untuk membuat dia nurut saya mencoba untuk menggunakan itu. Contohnya ketika dia tidak mau berbagi makanan, saya langsung punya ide 😎

Saya : "siapa yang anak pintar? "
Olin : "saya....." (sambil mengangkat tangan nya) 
Saya : "kalau anak pintar itu mau berbagi makanan dengan yang lain. "
Olin : (seketika dia langsung memberikan sepotong "teng teng" kepada ibu saya, padahal sebelumnya dia simpan sendiri πŸ˜‚, "teng teng" tuh semacam kue gitu) 
Saya : "pintar leeh anak pintar ini, tos dulu doong πŸ‘‹"
Olin : (dia toss dengan excitednya) 

Lalu saya terapkan setiap kali dia berulah, ketika gambar-gambarnya berantakan maka saya terapkan lagi taktik itu swhingga dia excited untuk membereskannya. Teknik ini lumayan nih bisa dipakai 😊. Sebagai reward nya aku berjanji untuk membacakan cerita nabi Yunus, dari tadi udah nagiiih terus minta di ceritain, tapi saya ngerjain dulu ini hehe. Saya kasih pengertian tante nya ngerjain tugas dulu, namanya tugas harus dikerjakan, Alhamdulillah dia mengerti walaupun sesekali nanyain lagi kapan seleseainya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Semoga bisa terus praktik komprod dengan Anak (kakak) dulu, lebih baik dari hari ke hariiiii. Sudah dulu yaaa, kasian Olin mau diceritain Nabi Yusuf hehehe. Semangat untuk mengasah, practice makes perfect 😍

Kamis, 02 November 2017

Komunikasi Produktif Day 1

Partner : Mamah

Assalamualikum, hari ini udah mulai nih untuk praktik Komprod nya, sebenernya ingin sekali bikin family forum tapi kok kayanya canggung karena kebiasaan keluargaku yang memang agak kaku untuk membicarakan hal-hal serius dalam satu lingkaran kecil, padahal sebenernya bisa aja sih tapi saya masih merasa canggung (padahal sama orang tua sendiri ya haha). Insha Allah kalau memang hati sudah mantap dan ada kesempatan yang pas bisa dilakukan family forum tapi memang tidak se formal yang dibayangkan, semoga bisa yaa hehe.
Ya, partner latihan hari ini adalah Mamah, sebenernya pas pagi itu masih bingung gitu siapa ya yang akan dijadikan partner untuk practice komprod nya. Tapi memang qadarulloh hari ini ada kejadian kecil dan sepele yang bisa aku jadikan media latihan. Jadi begini, ceritanya dimulai dari saya yang hampir kesiangan masuk kerja sampe hectic bungkusin sarapan buat di klinik sampe ga menghiraukan apa yang dibilang sama mamah saya (lebih tepatnya bukan ga menghiraukan sih, tapi lebih tepatnya ga kedengeran karena saya sedang ga fokus). Hari ini merupakan harinya Mamah saya kontrol bulanan ke RS, tapi karena saya buru-buru buat berangkat kerja jadi tidak menyadari hal itu. Alhasil, pergilah saya ke tempat kerja. Hari ini ada 1 jadwal kontrol pasien dan pagi (nah ini yang bikin buru-buru haha), jam setengah 10 saya selesai perawatan pasien tersebut lalu saya langsung cuci alat. Ketika saya cuci alat bekas perawatan, handphone saya berdering, dari kejauhan saya lihat bahwa mamah saya yang telpon. Karena keadaan tidak memungkinkan untuk angkat telepon, akhirnya saya biarkan dahulu telepon nya dan menyelesaikan cuci alat dulu. Setelah saya selesai mencuci alat, saya telpon balik mamah saya (dan sudah ada firasat, saya lupa bawa surat kontrol amah saya untuk di daftarin). Kemudian saya angkat.
Asti : "Assalamualaikum Ma?"
Mamah : "Waalaikumsalam, ari asti ieu surat kontrol mamah naha nteu dibawa?" (Artinya : Waalaikumsalam, ih asti ini kok surat kontrol mamah kenapa ga dibawa).  (Dengan nada yang lumayan tinggi karena mungkin kesel)
Asti : "Ya ampun abi lupa ma, emang tadi mamah bilang nya?" (Artinya : Ya ampun aku lupa ma, emang tadi mamah bilang ya?). (Berusaha tetap stay cool dengan tidak terlalu mengambil hati dan mengontrol intonasi suara)
Mamah : "Kan tadi cek mamah ge eta surat kontrol di deket TV, teu diperhatikeun meuereun." (Artinya : Kan tadi mamah bilang juga itu surat kontrol di deket TV, ga diperhatiin kali ya). (Dengan ekspresi sedikit dongkol).
Sebenernya aku ga merasa bahwa mamah bilang seperti itu atau mengingatkan tentang surat kontrol, tapi mungkin memang aku yang sedang tidak fokus karena terburu-buru. Percakapan kembali berelangsung.
Asti : "Oh iya meureun tadi teu kadengeran, yaudah sok kadieukeun atuh ka si teh ina, engke ku abi di daftarkeun ka RS." (Artinya : oh iya kali ya tadi ga kedengeran, yaudah siniin sama teh ina, ntar aku yang daftarin ke RS nya). (Dengan tetap menjaga intonasi suara agar tidak membludak, padahal biasanya aku selalu terpancing untuk meninggikan suara kalau merasa disalahkan).
Mamah : "Yaudah." (Langsung menutup telepon nya)
Sebenernya agak gimana gitu, wah mamah marah nih. Tapi dari percakapan telepon yang singkat ini aku menyadari bahwa dari sudut pandang mamahku bisa jadi beliau merasa kesal karena saya tidak menghiraukan perkataannya, dari sudut pandangku bisa saja aku berfikir "ah aku ga salah, ga ngerasa di suruh bawa surat kontrol kok" tapi aku lebih memilih untuk menggunakan kaidah 7-38-55 yaitu memperkecil peluang emosi untuk digunakan saat percakapan, merendahkan intonasi suara dan menggunakan body language yang tenang walaupun sebenarnya posisi saya dan lawan bicara sedang tidak berhadapan, tapi saya posisikan seperti Mamah saya sedang berada di depan saya. Karena body language juga bisa mempengaruhi naik turunnya intonasi suara.

Setelah beberapa saat aku telepon lagi mamahku untuk menanyakan nanti berangkat kontrol jam berapa, dan saat aku telepon nada suara beliau tidak setinggi ketika pertama kali di telepon. Jadi udah biasa aja, bahkan sampe mintain jemput pas pulang kontrol sekalian ulang hehe gapapa sih. Tapi emang benar sih ketika lawan bicara kita sedang mengedepankan emosi daripada nalarnya, maka jangan kita lawan dengan emosi lagi. Daan pemilihan timing juga penting, choose the right time itu bener-bener bisa kita terapkan, its work bangeeet.

Semangat untuk terus belajar, practice makes perfect :)

Senin, 30 Oktober 2017

Hidup adalah Ujian dari Kesaksian

Assalamualaiku, ukhti fillah :)
 
Kali ini tiba-tiba ingin me-recall kajian yang dulu sempat saya ikuti. Majelis kecil sih, seingatku ada sekitar 15-20 orang akhwat yang hadir tapi sungguh MENAMPAR *plakk hahaha. Gimana engga, temanya tentang hidup adalah ujian kesaksian, dan aku baru ngeuh nya ketika itu (Astaghfirulloh :( sedih rasanya. Karena kebanyakan dari kita tidak memahami apa yang terjadi sebelum kita lahir ke dunia ini, sehingga tidak jarang kita menemukan manusia-manusia yang kehilangan arah :(.
 
Awalnya yang kebanyakan kita pahami bahwa fase mahluk hidup (manusia) itu terdiri dari 3 fase yaitu hidup-mati-hidup. Tapi ternyata ada satu fase yang terpenting dan itu tidak semua orang mengetahuinya, jadi inilah fase kehidupan manusia mati (saat berada di rahim Ibu kita)-hidup (saat berada di dunia)-mati (saat berada di Alam Barzah)-hidup (saat berada di alam akhirat). Fase pertama yang dilalui manusia adalah fase mati (saat berada di dalam rahim Ibu kita) saat Allah memberikan ruh pada janin maka disana terjadilah sebuah perjanjian antara Allah dan si Janin (kita, si calon bayi yang akan lahir ke dunia). Apa isi perjanjian itu? Sakral sekali kah sampai-sampai sakralnya melebihi ijab qabul? #eh. Yaps, pada saat itu Allah tanyakan pada si Janin siapakah Tuhanmu?, lalu si janin yang masih suci menjawab sudah tentu Allah Tuhanku, kemudian Allah bertanya kembali siapa Nabimu?, kembali si janin menjawab Muhammad lah nabiku. Setelah kejadian itu Allah memberikan kita lupa terhadap perjanjian tersebut. Hayoo, emang ada yang masih ingat kejadian itu? Saat kita bersaksi bahwa Allah lah Tuhan kita dan Muhammad adalah Rasul kita, masih adakah yang ingat? Tidak ada yang ingat sama sekali, bahkan ulama sekalipun. Lha kenapa? Katanya bikin perjanjian tapi kok malah bikin kita lupa?
 
Saat kita lahir ke dunia ini dengan polos nya, apakah kita masih ingat perjanjian kita dengan Allah saat masih berada di Rahim Ibu kita? tidak kan, nah itu lah ujian bagi kita akankah selama kita hidup di dunia berperilaku sesuai dengan janji kita pada Allah. Kalau kita bersaksi bahwa Allah adalah tuhan kita, maka segala tindak tanduk kita di dunia ini dilakukan karena Allah, kita selalu meyakini bahwa Allah selalu mengawasi kita, kita selalu menerima dan meyakini bahwa apa yang Allah tetapkan untuk kita adalah yang terbaik untuk kita. Daaan, kalau kita bersaksi bahwa Muhammad Rasul kita maka kita akan senantiasa meneladani sunnah-sunnah Rasululloh SAW, yang nantinya akan berdampak pada bagaimana kita berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
 
Dunia itu bagaikan surga yang tidak nyata bagi sebagian orang, ya tidak nyata karena bisa jadi dunia ini membahagiakan, melenakan tapi sifatnya tidak kekal, ada masa berakhirnya. Tentu kita mengalami apa saja yang terjadi di dunia, ada yang hidup berkecukupan namun jauh dari rasa Syukur, ada yang hidupnya pas-pasan tapi hatinya penuh syukur, ada yang lurus-lurus aja gak mikirin kehidupan selanjutnya atau gimana, ada yang hidup seenaknya dan berbagai macam cara manusia hidup di dunia. Yang jelas kita hidup di dunia ini untuk mencari bekal untuk di akhirat kelak. Karena masuk syurga itu ga gratis, masuk toilet aja bayar 2000 yang notabene cuma buat buang kotoran. Apalagi syurga, yang didalamnya terdapat banyak nikmat, kedamaian, di dalemnya segala ada dan bikin betah yang tinggal disana, mana mungkin cuma dihargai 2000 rupiah kaya ke toilet? Atau bahkan ada yang mikir bisa masuk syurga secara cuma cuma? Heeey, ngaca dulu sebelum ngomong hehehe.
 
Kebanyakan dari kita terlena dengan kehidupan dunia, sampai-sampai lupa mempersiapkan kehidupan yang sebenernya paling kekal yaitu kehidupan akhirat. Banyak seminar-seminar Pra-Nikah tapi ga banyak seminar-seminar Pra-Akhirat hehe. Kaum muda yang udah kebelet nikah (eh siapa haha) mantap berkata In Shaa Allah saya sudah siap menikah, tapi jarang yang mantap berkata Ins Shaa Allah saya sudah siap mati. Dan kebanyakan dari kita takut mati, bahkan membicarakannya saja sudah cukup membuat merinding, karena apa? Karena kita kurang cukup bekal untuk mempersiapkan kematian dan kehidupan setelah mati. Semoga dalam keadaan apapun kita, kita selalu berada pada jalan NYA, sehingga saat di alam kubur ditanya malaikat Munkar Nakir Man Robbuka? (Siapa Tuhanmu?) maka kita sudah mantap menjawab ALLAH. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari perbuatan yang keji dan munkar, semoga kita bisa menepati janji terbesar kita kepada Allah (Kesaksian Syahadat) :)
 
Jangan pernah lelah untuk berproses :)
Wallahu 'alam.

Jumat, 27 Oktober 2017

Pesan Cinta dari Allah

Assalamualaikum ukhti fillah :)
 
Apa kabarnya hari ini? Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan karena Allah sebaik2 pelindung bagi Ummatnya. Ngomong2 tentang pesan cinta, jadi inget pesan cinta dari pacar #eh hehehe engga deng becanda. Pesan cinta itu tidak selalu dari manusia kepada manusia, bahkan Allah yang menciptakan manusia juga tidak pernah luput untuk memberikan pesan cinta untuk mahluk Nya. Hah? Pesan cinta dari Allah? Yang kaya gimana tuh? Kok rasanya ga pernah dapet.
 
Bisa jadi memang sebagian orang berpikir seperti itu, karena memang Allah belum bukakan hatinya untuk lebih mudah menangkap pesan cinta dari Nya. Lantas, seperti apa saja pesan cinta dari Allah itu? Banyaaaak sekali, bahkan selalu kita temui di setiap sisi kehidupan. Bukankah ayat2 Alquran juga merupakan pesan cintanya? Bukankah setiap kejadian dalam kehidupan kita mengandung pesan cinta dari Allah? Tapi tidak semua manusia bisa mendapatkan nya, contohnya saja pesan cinta Allah di Alquran tidak semua orang mau menyempatkan untuk membacanya apalagi membaca samapai terjemahannya. Alasannya banyak, sibuklah, tidak sempat lah, dan urusan2 dunia lainnya. Astagfirulloh :(
 
Lalu bagaimana dengan pesan cinta yang Allah selipkan dari setiap sisi kehidupan kita? Pernah ga kita mengalami suatu kejadian yang menurut kita itu adalah sesuatu yang buruk bagi kita, bahkan kita hampir tidak rela dan membenci ketetapan Allah. Padahal yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah karena Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan :). Misal Allah timpakan beberapa musibah pada kita dalam bentuk penyakit, tentunya kalau hawa nafsu mengatakan "Kenapa sih Allah timpakan ini pada saya? Kenapa bukan yang lain? Saya ini masih muda, masih punya perjalanan yang panjang" maka segeralah beristighfar. Karena dibalik musibah tersebut bisa jadi Allah sisipkan pesan cinta kepada kita untuk tetap bersabar karena kita sedang membutuhkan sabar untuk melembutkan hati kita, untuk senantiasa berbuat baik karena kita sedang membutuhkan tabungan amal shaleh untuk memperberat timbangan di Yaumul Hisab nanti, untuk senantiasa mengingat mati karena saat ini kita sedang terlena dengan kehidupan dunia dan lupa bahwa ada kehidupan yang lebih kekal dari pada dunia karena kehidupan di dunia ini bersifat sementara, dan mengingatkan kita untuk meluruskan apa tujuan kita hidup di bumi.
 
Coba deh sekarang kita bayangkan kejadian2 masa lalu saat kita merasa kita sedang terpuruk (menurut kita), setelah itu bayangkan kembali hikmah dari kejadian itu, ternyata Allah itu Maha Romantis sekali. Allah pilihkan yang terbaik untuk mahluknya, Allah pilihkan yang paling dibutuhkan mahluknya. Terus bagaimana kalau merasa tidak bisa merasakan hikmah dari suatu musibah? Maka perbanyaklah istighfar dan perbanyak berkhalwat dengan Nya. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin kita mengenal dan lebih dekat dengan Nya semakin kita juga mudah menangkap pesan cinta dari Nya. Karena Allah itu sesuai apa yang disangkakan mahluk Nya. Maka dari itu yuk perbanyak berkhalwat dengan Allah, bukan dengan gadget atau bahkan dengan pacar (yang belum halal heheh).
 
Semangat untuk selalu Istiqomah yu Ukhti fillah, karena Syurga itu bukan untuk orang yang bermalas2an, dan Istiqomah itu tantangan nya berat namun harus di ikhtiarkan.
 
Wallahu alam.

Selasa, 25 Juli 2017

NICE HOMEWORK #9

Matrikulasi Institut Ibu Professional Batch 4

Bunda sebagai Agen Perubahan

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda..
Alhamdulillah kita udah sampe ke NHW yang terakhir hihi. Dan kerasa banget ya sekarang NHW nya udah makin menuntut kita untuk action apa yg bisa kita lakukan demi perubahan di keluarga da masyarakat pada umumnya.

Di bberapa NHW sebelumnya kita sudah mulai digiring untuk menilai potensi kita, mengelompokkan hal-hal yang bisa dan suka kita lakukan, menemukan misi spesifik hidup dan banyak lagi lainnya. Maka sekarang, setelah kita menemukan komponen-komponen tersebut saatnya untuk mengambil langkah atau bahasa kerennya action.

Untuk menciptakan action tentu kita harus memulai dengan empati+passion sehingga akan menghasilkan sebuah ide atau gagasan yang tertuang dalam gerakan. Saya sendiri akan menguraikannya sebagai berikut :
Minat dan Hobby
Minat saya adalah dalam hal menulis, tapi hobby saya adalah berbicara di depan banyak orang misal membawakan acara, atau memberikan penyuluhan kesehatan.

Soft Skill dan Hard Skill yang Dimiliki
Softskill yang saya miliki adalah semangat untuk berubah, motivasi kuat, semangat belajar dan ingin tahu, ramah, supel (mudah bergaul, tidak kaku). Sedangkan, hardskill yang saya miliki saya bisa tampil di depan umum untuk membawakan acara (terutama informal lebih senang), maupun acara formal (penyuluhan kesehatan) dan sedikit dalam hal menulis (harus banyak belajar lagi).

Isu Sosial
Sebagai petugas kesehatan, saya menilai kebiasaan hidup keluarga dan masyarakat di sekitar tempat tinggal saya, yaitu belum terciptanya kesadaran masyarakat untu melakukan upaya preventif untuk mencegah mupun mengontrol penyakit kronis. 

Masyarakat
Kalangan orang tua

Ide Sosial 
Sebelum saya membuat gerakan, tentunya saya harus mulai dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Saya ingin mengkampanye kan Melek "Masyarakat Melek Kesehatan". Hal-hal kecil yang bisa saya lakukan antara lain membuat poster ataupun media edukasi yang bisa daya tempet di pos yandu ataupun pos kamling dimana banyak masyarakat yang bisa mengakses tersebut, selanjutnya bisa bekerja sama dengan kader terkait penyuluhan ataupun kegiatan-kegiatan preventif lainnya.

Dulu ketika masih kuliah terkadang saya suka berfikir, saya ini bagian dari calon petugas kesehatan yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tapi apa yang bisa dan sudah saya berikan pada lingkungan tempat tinggal saya? Alhamdulilah sekarang sudah lebih terbuka fikiran saya, karena saya juga bekerja di pelayanan kesehatan sebagai perawat luka khusus luka diabetes, minimal masyarakat bisa aware dengan penyakit kronis tersebut. Setidaknya lewat tulisan dan media-media edukasi saya masyarakat lwbih sadar betapa pentingnya menjaga kesehatan. 

Keliahatannya sangat mudah, tapi pada pelaksanaannya nanti pasti selalu saja ada halang dan rintang terutama dari diri saya sendiri, harus kuat untuk memotivasi diri sendiri sebelum memotivai orang lain, karena perubahan dimulai dati hal-hal kecil.

Semangat para Bunda fan Calon Bunda 😊
γŒγ‚“γ°γ‚ŠγΎγ—γ‚‡γ†πŸ’ͺ

Kamis, 20 Juli 2017

NICE HOMEWORK #8

Matrikulasi Institut Ibu Professional Batch 4

Misi Hidup dan Produktifitas.


Bismillahirrohmaanirrohiim,
Assalamualikum Bunda dan calon Bunda, semakin lama pembelajan di Institut Ibu Professional ini semakin mengerucut dan semakin membuat kita berfikir dalam mengerjakan setiap NHW nya, ga jarang saya menunda mengerjakan NHW karena malas untuk berfikir (jangan ditiru yaa, tapi sekarang Insha Allah semangat lagi kok). Setiap pembelajaran pasti ada tantangan nya, karena sejatinya output dari sebuah pembelajaran adalah perubahan perilaku, yang nantinya Insha Allah akan menaikkan kelas kita. Makanya ujian nya juga tidak mudah 😊

Yaps, sekarang kita akan membahas tentang Misi Hidup dan Produktifitas di NHW kali ini, mikir dulu sebelum nulis kira kira harus gimana ngerjain nya ya? Tapi Alhamdulillah, selama belajar di Matrikulasi ini sedikit demi sedikit hidup saya terarahkan. Kita tahu bahwa Allah menciptakan manusia sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Allah sudah mengamanahkan amanah yang "spesial" kepada setiap umat manusia, jadi pemimpin loh, bayangkan aja diamanahkan langsung dari Allah loh. Coba deh bayangin, para pemimpin kita (baik itu wali kota, gubernur bahkan presiden) pun punya visi dan misinya masing-masing dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin (yang notabene itu diamanahkan oleh rakyat, walaupun sebenarnya atas kehendak Allah). Apalagi kita yang memang amanahnya bahkan tertulis dalam Al-Qur'an, masa iya gak punya visi dan misi untuk menjalani kehidupannya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi ini? Apa kata dunia? πŸ˜†

Tidak sedikit orang yang bahkan bingung sebenarnya apa tujuan hidupnya, untuk apa ia diciptakan. Bersyukurlah bagi kita yang bisa dengan lebih mudah menangkap sinyal dari Allah untuk bisa menemukan tujuan hidup (lebih spesifiknya visi dan misi hidup). Saya sendiri, baru menemukan visi dan misi hidup selepas beranjak dewasa, kebayang banget ya kalau misal sejak remaja (aqhil baligh) sudah punya visi misi hidupnya kayanya akan lebih mantap menjalani hari-harinya. Tapiii tidak ada kata terlambat hihi.

Visi hidup saya adalah "Mendapatan keberkahan atas segala sesuatu semasa hidup saya" Aamiin. Toh semua yang bernyawa akan mengalami kematian, dan hanya Allah lah tempat kita kembali. Kita dilahirkan dalam keadaan suci, maka berusahalah saat dikembalikan pada Allah juga dalam keadaan suci (khusnul khotimah). Berkah itu tidak bisa dinilai dengan angka, tapi berkah itu bisa kita nilai dari ketenangan hati setelah kita melakukannya dan kebermanfaatannya.

Anggap saja Visi adalah garis besar tujuan hidup kita atau dengan kata lain puncak pencapaian hidup kita. Maka perlu usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu, saya akan melakukan nya dengan step by step dan mengelompokkannya dalam beberapa dimensi waktu :

LIFE TIME PURPOSE (Sepanjang Usia)
♡ Saya Ingin Menjadi Apa (Be)
Saya ingin menjadi pribadi yang bermanfaat, dan menjadi pribadi yang berkesan baik untuk semua orang yang saya kenal.

♡ Saya Ingin Melakukan Apa (Do)
Untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan berkesan baik, saya harus meninggalkan kebermanfaatan bahan ketika saya sudah meninggalkan dunia ini.

Saya Ingin Memiliki Apa (Have)
Saya ingin memiliki banyak teman yang bisa mendorong saya dalam hal kebaikan.

STRATEGIC PLAN (Dicapai dalam 5-10 tahun)
♡ Saya Ingin Menjadi Apa (Be)
Saya ingin menjadi pribadi yang bisa menghasilkan karya-karya lewat tulisan walaupun tulisan sederhana.

♡ Saya Ingin Melakukan Apa (Do)
Untuk menghasilkan karya, bahkan karya yang sesederhana apapun saya perlu belajar dan terus berlatih untuk mendalami ilmu menulis.

♡ Saya Ingin Memiliki Apa (Have)
Saya ingin memiliki satu karya buku yang bisa saya hadiahkan untuk keluarga, anak/suami saya kelak.

NEW YEAR RESOLUTION (Dicapai dalam jangka waktu 1 tahun)
♡ Saya Ingin Menjadi Apa (Be)
Saya ingin menjadi pemberi inspirasi untuk orang lain terutama orang-orang terdekat saya.

♡ Saya Ingin Melakukan Apa (Do)
Untuk menjadi sumber inspirasi, saya harus melakukan perubahan-perubahan perilaku saya kearah yang lebih baik, lebih banyak belajar lagi dalam hal yang ingin saya tekuni, lebih strict dengan jadwal yang saya buat sendiri, dan lebih percaya diri untuk menulis.

♡ Saya Ingin Memiliki Apa (Have)
Saya ingin memiliki jaringan orang-orang yang bisa meningkatkan kualitas diri saya.

Segala sesuatu yang kita rancang, tidak akan mungkin terlaksana tanpa motivasi yang kuat dari diri sendiri untuk menjalankannya. Jadi, semoga saya bisa Istiqomah untuk melakukan usaha-usaha untuk mencapai tujuan hidup (Visi hidup) saya. Semangat Bunda, dan Calon Bunda 😊


Minggu, 16 Juli 2017

NICE HOMEWORK #7

Institut Ibu Profesionl Batch #4

Menjadi Bunda Produktif

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda,
Kali ini NHW nya tentang menjadi Bunda Produktif. Tentunya setiap Bunda ingin menjadi Bunda terbaik untuk Anak-Anaknya. Bagaimana caranya? Setiap orang punya caranya masing-masing dengan seni nya masing-masing pula. Salah satu caranya yaitu dengan menjadi Bunda yang Produktif. Bagaimana caranya untuk menjadi produktif? Langkah pertama kita harus mengenali potensi dan kelemahan yang kita miliki, sehingga kita bisa mengambil langkah selanjutnya. Berikut hasil analisis potensi dan kelemahan saya berdasarkan ST30.


Berdasarkan hasil Test ST30, saya memiliki potensi sebagai berikut :
*Administrator (karena saya senang dengan hal yang terstruktur)
*Ambassador
*Analyst
*Arranger
*Comander
*Interpreter
*Marketer

Selain potensi, saya juga mempunya kelemahan dalam beberapa hal antara lain :
*Evaluator (jujur saja, karena saya adang memang sulit kalau diminta untu mengevaluasi sesuatu)
*Explorer
*Journalist (makanya harus terus belajar nih)
*Mediator
*Operator
*Producer
*Treassure

Sehingga melihat dari hasil test ST30 tersebut saya bisa mengerti apa potensi ang harus saya tingkatkan. Dengan begitu saya bisa mengklasifikasikan kegiatan kegiatan kedalam beberapa kategori :

BISA DAN SUKA
# Berkomunikasi dengan orang lain
# Merancang perencanaan kegiatan dan sumber daya manusia
# Membawakan acara santai
# Menulis sedikit-sedikit (masih harus banyak belajar dan mentempatkan waktu)
# Nonton Drama
# Membaca
# Berbicara di depan

BISA TAPI TIDAK SUKA
# Berdagang Toko
# Nonton Film di Bioskop
# Nonton Konser Musik

TIDAK BISA TAPI SUKA
# Menghadapi Anak kecil
# Nonton Konser Boygrup Korea (hehe)

TIDAK BISA DAN TIDAK SUKA
# Gosip
# Terlalu eksis di medsos

Sekian, itulah beberapa klasifikasi kegiatan saya. Harapannya setelah di klasifikasikan, saya bisa meningkatkan potensi saya dengan meningkatkan kegiatan yang saya BISA LAKUKAN dan SAYA SENANG melakukannya. Salam semangat untul bunda dan calon bunda 😊

Minggu, 09 Juli 2017

NICE HOMEWORK #6

Institut Ibu Professional Batch 4

Belajar Menjadi Manajer Keluarga

Bismillahirrohmaanirrohim,
Menjadi Ibu terbaik adalah impian setiap wanita, maka dari itu perlu usaha untuk mencapai impian tersebut. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah "Belajar menjadi Manajer keluarga". Mudah? Tidak juga, tapi sangat penting untuk di ikhtiarkan. Mengingat bahwa Ibu adalah pencetak dan pembentuk generasi. Sesuai dengan arahan NHW #6, yang pertama kali harus dilakukan adalah memilih aktifitas yang penting dan tidak penting. Mari kita list, chek it out.
List aktifitas yang penting :
Aktifitas yang penting adalah aktifitas yang biasa kita lakukan sehari-hari dan "bernilai". Bernilai disini artinya ada kebermanfaatannya. Sesuai dengan NHW sebelum-sebelumnya, saya sudah me-list aktivitas yang akan saya lakukan untuk menjadi seorang Ibu yang Professional. Diantaranya :
* Aktifitas sebagai Individu
* Aktifitas sebagai Istri
* Aktifitas sebagai Ibu

Ga perlu dijelasin lagi ya poin pe poin nya, karena udah pernah dijabarkan sebelumnya hehehe.

Selanjutnya, apa saja aktifitas yang tidak penting itu? Yaitu aktifitas yang jika kita lakukan hanya membuang-buang waktu tanpa ada manfaatnya, misalnya :
* Berlama-lama dengan Gadget (main di medsos)
* Rumpi yang tidak berfaedah (ghibah)
* Nonton drama/film (mari kita usahakan untuk yang satu ini, bertahap aja hehehe)

Setelah kita me-list aktifitas yang bermanfaat dan aktifitas yang mubah, maka yang harus kita lakukan adalah menaati dan strict dengan peraturan yang dibuat sendiri. Setelah itu, baru kita buat jadwal harian. Jadwal harian yang saya buat adalah seperti ini. Saya memang belum menjadi seorang istri dan ibu sekarang ini, tapi saya akan mengusahakan untuk mempersiapkan nya mulai dari sekarang. 

04.30-06.00 Shalat subuh dan amalan yaumi pagi
06.00-06.45 Sarapan dan beres-berez rumah
06.45-07.30 Persiapan berangkat bekerja
07.30-16.00 Work Time (disela-sela work time bisa diisi dengan hal-hal yang bermanfaat misal : membaca, shalat dhuha, tilawah, latihan menulis dll)
16.00-18.00 Break Time
18.00-19.00 Magrib Time dan amalan yaumi
19.00-21.00 Bisa diisi dengan berbagai aktivitas yang variatif, mulai dari membaca, latihan menulis dll.

Bisa mematuhi jadwal yang kita buat sendiri itu sangat menyenangkan, terlebih sekarang kita sedang dalam persiapan untuk memantaskan diri menjai Istri dn Ibu. Alanhkah baiknya jika kita konsisten agar hasilnya juga memuaskan. 

Janga n pernah lelah untuk berusaha Bunda dan Calon Bunda 😊

Minggu, 18 Juni 2017

NICE HOMEWORK #5

Institut Ibu Professional

NHW #5

Belajar Bagaimana Belajar

Bismillahirrohmaanirrohiim..
Assalamualaikum, ga kerasa yaaaa udah ketemu lagi di NHW #5 ajaaa hihihi. Makin kesini tugasnya makin menantang, tapi tidak lantas menyurutkan semangat hehehe. Kali ini kita belajar mengenai belajar bagaimana belajar. Lha, gimana maksudnya tuh? hihihi. Bahkan sebelum kita akan menuntut ilmu, kita harus tahu dulu ilmu nya agar tepat peruntukannya, tepat sasaran, dan terutama ilmunya barokah. Jurusan yang ingin saya tekuni di Universitas kehidupan ini adalah jurusan menulis, saya merasa masih sangat sangat sangat kekurangan dalam ilmu tentang menulis, istilahnya masih ilmu cetek hehe, cuma modal kepengen tapi Insha Allah di ikhtiarkan. Saya merangkum beberapa metode belajar saya, chek it out, hehe :
 
What
Karena jurusan yang ingin saya tekuni di Universitas kehidupan ini adalah Jurusan Menulis, maka apa yang ingin saya cari adalah semua hal yang berhubungan dengan menulis. Baik itu cara menulis yang baik dan benar, etika menulis itu seperti apa, etika mempublikasikan tulisan itu seperti apa, bagaimana cara membuat tulisan yang inspiratif dan bermanfaat.
 
Who
Apakah perlu patner dalam belajar? jawabannya tergantung pada pribadi masing~masing, kalau saya adalah tipe orang yang membutuhkan orang lain dalam belajar. Apalagi dalam hal menulis, saya butuh banyak referensi tulisan teman, sahabat, atau bahkan penulis yang memang sudah sukses menjadi penulis untuk menjadi sumber inspirasi saya dalam menulis.
 
When
Saya belajar menulis mulai dari saya senang menulis saat menjadi mahasiswa dahulu walaupun tidak sekeren teman~teman saya hehe. Saya akan meluangkan waktu yang sudah saya sepakati dengan diri saya yang tentunya khusus saya luangkan untuk mempelajari ilmu ini.
 
Where
Belajar itu tidak terbatas oleh tempat, belajar itu bisa dimana saja, di tempat kerja pun bahkan kita masih bisa tetap belajar, tapi untuk tempat yang privat tenatunya lebih nyaman ketika memang hanya ada saya sendiri (karena saya tipe orang yang senang menyendiri ketika belajar)
 
Why
Kenapa saya ingin mempelajari ini? Karena saya ingin menghasilkan karya, dan karya saya bisa dinikmati terutama kmanfaaatannya oleh oorang lain.
 
How
Saya akan melakukannya dengan tahapan sebagai berikut :
1. Siapkan waktu untuk belajar
2. Hadirkan jiwa dan raga untuk belajar
3. Fokus
4. Sebelum mulai menulis, penuhi dulu ilmu menulis dengan mencari hal~hal yang telah saya sebutkan diatas
5. Stelah dirasa cukup, berlatih secara bertahap untuk meningkatkan kepercayaan diri
6. Istiqomahkan untuk tetap menulis
7. Secara berkala, minta teman yang sama~sama suka menulis untuk menilai hasil tulisan kita
8. Terbuka terhadap masukan, kritik, dan saran.
 
 
Pembelajar itu tidak pernah malu harus belajar dari siapa, tapi dia malu ketika dia harus berhenti untuk belajar.

Minggu, 11 Juni 2017

NICE HOMEWORK #4

Institut Ibu Professional Batch 4

Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Assalamualaikum warohmatulllohi wabarakatuh,
Alhamdulillah tidak terasa sudah nenasuki NHW 4 walaupun sebenernya agak keteteran karena memang moment nya minggu kemarin saya ditugaskan untu mengelola unit baru oleh perusahaan saya, sebenernya ini jadi tamparan buat saya yang sekarang mengerjakan NHW di sela sela penyuluhan. Minggu kemarin dan minggu ini kegiatan saya full penyuluhan di puskesmas dan majelis taklim tentang diabetes, sekaligus memperkenalkan rumat sudah hadir di Garut. Setelah di rasa, saya suka menulis tapi ya itu godaan terbesarnya ada pada diri saya, untuk menulis NHW saja masih terkalahkan oleh aktifitas lain. Itu tandanya saya memang belum bisa memprioritaskan menulis. Saya memilih menekuni Jurusan Menulis di Universitas kehidupan ini karena saya memang suka dan senang menulis.
 
Sejujurnya saya masih belum konsisten untuk membulatkan tekad untuk kembali aktif menulis, tapi ada beberapa kegiatan yang memang saya biasa lakukan dengan rutin, yaitu membaca artikel banyak teman saya sebagai tambahan ilmu dan inspirasi, tapi untuk menuangkan dalam tulisan masih minim usaha nya.
 
Kini saya semakin faham, kenapa Allah menggerakkan hati saya untuk mengikuti Matrikulasi Ibu Professional, agar saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bersama IIP saya digiring untuk mengenali potensi dan passion saya, yang mana pernah saya katakan sebelumnya bahwa melalui tulisan kita bisa mengubah dunia, dunia itu luas bahkan kita mempunyai dunianya masing~masing. Saya berharap minimal saya bisa mengubah dunia saya menjadi lebih baik, maksimal bisa bermanfaat bagi dunia orang lain. Dan saya ingin menjadi seperti itu, terutama mengubah ke arah yang lebih baik. Tentunya saya harus memperbanyak bekal saya dalam bidang ini.

Misi hidup saya menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain di Jurusan menulis ini, saya ingin melalui tulisan saya banyak orang merasakan kebermanfaatan dari tulisan saya. Ilmu~ilmu yang saya perlukan untuk menekuni jurusan ini antara lain :
1. Ilmu~Ilmu tentang literasi (langkah menulis, adab, etika menulis, dll)
2. Ilmu~ilmu tentang motivasi untuk diri sendiri agar lebih semangat dalam mencekuni apa yang sedang kita lakukan.

Dalam satu hari, saya akan meluangkan waktu 2 jam untuk mencari ilmu dan mempraktikkan ilmu di jurusan yang saya tekuni, sehingga dalam jangka 2 tahun akan terlihat hasilnya :
KM0~KM1 (8 bulan pertama) saya menguasai ilmu tentang literasi
KM1~KM2 (8 bulan kedua)  saya terus termotivasi untuk mengembangkan diri dan juga untuk terus menulis.
KM2~KM3 (8  bulan ketiga) percaya diri menunjukan tulisan sendiri pada orang lain.

Andaikan tahapan~tahapan ini bisa saya lalui dan prosesnya berjalan lancar, saya akan sangat senang sekali, semoga ALlah senantiasa memberikan kelancaran pada setiap prosesnya.

Wallohu `alam bisshowaf

Rabu, 31 Mei 2017

NICE HOMEWORK #3

Institut Ibu Professional Batch #4

Untukmu Calon Imamku

Kamis, 1 Juni 2017

Assalamualaikum,
Bagaimana kabarmu akhi? Bagaimana kabar imanmu hari ini? Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam proses penjagaan yang sedang kau lakukan. Semoga Allah senantiasa menetapkan iman dalam hati, pendengaran, dan penglihatanmu. Walaupun kita belum pernah saling berjumpa, tapi ku yakin akhi disana sedang berjuang untuk sama-sama memantaskan diri. Semoga kita selalu Istiqomah ya :)

Akhi, tahukah akhi? Aku ini seorang pembelajar yang tidak pernah ragu menggapai mimpi-mimpiku. Aku tidak malu belajar dari siapapun, sekalipun itu anak kecil walaupun dengan makna tersirat. Akhi, Allah anugerahkan aku kelembutan hati mungkin ini salah satu dari fitrah wanita, sehingga aku tidak mau menyakiti perasaan orang lain, aku ingin aku bisa mengelola perasaan ini bersamamu nanti saat kita akan membangun peradaban mulia (Aamiin Allahumma Aamiin). Dan tahukah akhi? Aku levih mudah menangis saat terharu, hehe. Aku ingin kelembutan hati yang Allah anugerahkan ini tidak menjadikanku menjadi mahluk "mellow". Tapi, kuingin kelembutan hati dan kepekaan ini menjadi energi positif yang akan menjadi ladang pahala dan bisa mengantarkanku menuju gerbang impian. Aamiin.

Akhi, tahukah akhi? Aku dilahirkan dari keluarga yang tidak terlalu berada dalam segi materi, tapi Allah melebihkan ku mendapat kasih sayang yang hangat dati orang tua dan kakak-kakak ku. Karena, ternyata tidak semua anak mendapat 2 hal tersebut sekaligus, ada yang beruntung mendapaykan dua-duanya, adapun yang hanya salah satu seperti aku, tapi aku sangaaat bersyukur. Hidup di tengah-tengah keluarga sederhana menjadikanku lebih mandiri dan lebih bekerja keras. Bayangkan akhi, jika memang keluargaku berkecukupan, mungkin dulu aku tidak akan berusaha keras untuk bisa kuliah dengan beasiswa, atau mungkin aku jadi anak yang manja dan jauh dari kata mandiri, dan tentunya mungkin aku lebih senang bermain menghambur-hambutkan uang orang tuaku. Alhamdulillah, kehidupan di keluargaku lumayan ketat terutama untuk jam main, sehingga dulu tidak ada ceritanya aku nongkrong-nongkrong pulang sekolah (tapi jaman kuliah lebih sering main sih tapi ada tujuan nya). Akhiii, betapa aku bersyukur dibesarkan di keluarga sederhana ini, mungkin Allah ingin aku lebih banyak bersyukur dan bekerja lebih keras lagi. Allah ingin aku tidak berleha-leha, karena surga ataupun kesuksesan tidak diperuntukan untuk yang berleha-leha kan?

Kalau menilik titik-titik kehidupan lalu menyambungkan nya, aku selalu berfikir "oh ternyata maksud Allah menghadirkanku ditengah-tengah keluarga ini adalah untuk bisa berjuang lebih keras", "oh maksud Allah menakdirkan ku kuliah di Unpad adalah Allah mau mendekatkanku dengan komunitas-komunitas pencari Allah", "oh maksud Allah mendekatkanku dengan teman-teman pencari Allah adalah agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi mahluknya yang penuh syukur", "oh maksud Allah menggerakkan hatiku untuk bergabung komunitas-komunitas, kajian, liqo adalah untuk mempersiapkanku menjadi pembangun peradaban mulia".

Akhi, rasanya sudah tidak sabar menanti perjumpaan denganmu. Tapi aku ingin kita bertemu dengan cara yang di ridhoi-NYA. Semoga Allah sampaikan kita pada waktu yang dijanjikan-NYA.

Tasikmalaya, 1 Juni 2017

Jumat, 26 Mei 2017

NICE HOMEWORK #2

Institut Ibu Professional Batch 4

Checklist Indikator Professionalisme Perempuan

Jumat, 26 Mei 2017


Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh...
Alhamdulillah bisa kembali lagi ketemu di NHW #2 yang topik nya menurut saya menarik, kenapa menarik? Karena ini bukan sekedar PR, tapi juga bisa dijadikan panduan untuk kita dalam mencapai predikat Ibu Professional. Yeaaay, semangaaaat!. Kita langsung mulai yuuk me-list daftar indikator nya.

Sebagai Individu
1. Shalatnya terjaga, shalat tepat waktu (maksimal keterlambatan 15 menit) dilakukan sepanjang hayat.
2. Puasanya terjaga, baik puasa wajib maupun sunnah dilakukan dengan sungguh-sungguh.
3. Puasa senin & kamisnya terjaga, minimal dalam 1 bulan 2 minggu puasa senin kamis 
4. Zakatnya terjaga, baik zakat wajib (penghujung ramadhan maupun zakat penghasilan), setiap bulan selesai gajian mengeluarkan zakat penghasilan.
5. Shodaqohnya terjaga, setiap hari minimal menyisihkan 1.000 rupiah untuk bershodaqoh, lebih besar lebih baik.
6. Bisa umroh dalam waktu 15 tahun kedepan.
7. Amalan sunnah shalat dhuha nya terjaga setiap hari
8. Amalan sunnah shalat sunnah rawatibnya terjaga.
9. Amalan sunnah qiyamul lail nya terjaga, minimal 3x seminggu.
10. Amalan sunnah shalat sunnah tasbihnya terjaga, minimal 1x perminggu.
11. Tilawahnya terjaga, usahakan ODOJ, jika tidak bisa ODOJ ya setengah Juz saja.
12. Amalan surat Al-Kahfi untuk setiap malam jumat dan hari jumat nya terjaga.
13. Amalan Al-Matsurot pagi dan sore terjaga (dilakukan setiap hari)
14. Muraja'ah nya lebih ditingkatkan lagi, dalam waktu 2 bulan kedepan harus sudah hafal Juz ke-30.
15. Halaqahnya terjaga, tetap mengikuti halaqah setiap 1x perminggu.
16. Mendengarkan/membaca hasil kajian-kajian ma'rifatulloh minimal 1x seminggu.
17. Meminimalkan sifat iri dan dengki dengan membatasi penggunaan media sosial, pergunakan aturan "jam medsos" yaitu jam 13.00-16.00 dan jam 17.00-20.00.

Sebagai Istri
1. Andaikan saya kelak jadi Istri, saya akan mematuhi suami saya.
2. Andaikan saya kelak jadi Istri, saya ingin menjadi tempat curhat yang baik bagi suaminya (menjadi pendengar yang solutif)
3. Andaikan saya kelak jadi Istri, saya ingin menyiapkan sarapan untuk suami saya setiap pagi.
4. Andaikan saya kelak jadi Istri, saya ingin selalu memberikan kejutan untuk suami saya lewat kreasi masakan yang saya buat.
5. Andaikan saya kelak jadi Istri, saya akan terus memperkaya ilmu saya dengan membaca siroh-siroh para shahabiyah minimal 1x perminggu.
6. Andaikan saya kelak jadi Istri, saya ingin menjadi teman diskusi yang baik untuk suami saya kelak dengan lebih banyak membaca untuk lebih memperkaya wawasan (minimal 1 buku per 1 bulan atau 2 bulan).
7. Andaikan saya kelak jadi Istri, saya akan menyiapkan slot "we time" bersama suami untuk lebih meningkatkan kualitas hubungan.
8. Andaikan saya kelak jadi Istri, saya akan membuat list perencanaan keuangan 1 bulan kedepan bersama suami.

Sebagai Ibu
1. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan menjadi orang pertama yang menyambut anak saya ketika bangun.
2. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan menyiapkan makanan untuk anak saya setiap harinya.
3. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan membuatkan mainan yang aman untuk anak saya (sesuai dengan usianya).
4. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan menjadi teman main yang menyenangkan untuk anak saya.
5. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan menceritakan atau saling bercerita dengan anak saya sebelum tidur sebagai pengantar tidur.
6. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan terus memperkaya ilmu parenting saya dengan membaca artikel, mengikuti seminar ataupun membaca dati buku 
7. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan menjadi teman curhat yang baik untuk anak saya.
8. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan tetap mempertahankan bahasa daerah asal saya maupun suami dengan memperkenalkan nya pada anak.
9. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan mengadakan outbound untuk bonding keluarga minimal 1x sebulan.
10. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan memperkenalkan Al-Quran sejak dini pada anak saya dengan memperdengarkan nya terlebih dahulu sebelum mengajakannya secara langsung.
11. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya akan memperkenalkan anak dengan siroh-siroh nabawiyah maupun shohabiyyah dengan tujuan agar anak minimal tau atau bahkan bisa meneladani hikmahnya.
12. Andaikan saya kelak jadi Ibu, saya ingin dikenal sebagai Ibu yang cerdas dan menyenangkan.

Alhamdulillah, itulah indikator-indikator professionalisme perempuan versi saya, sebenrnya masih banyak yang ingin ditulis tapi kayanya segitu dulu aja. Semoga bisa diwujudkan. Aamiin 😊

Kamis, 18 Mei 2017

NICE HOMEWORK #1

Institut Ibu Professional Batch 4

Materi : ADAB MENUNTUT ILMU

Bismillahirrohmaanirrohim,
Segala puji bagi Allah yang telah mengizinkanku kembali menulis di blog ini. sedikit bercerita, blog ini dulu dibuat karena tugas salah satu mata kuliah jaman kuliah dulu. Setelah itu kadang dipakai untuk beberapa kali curhat atau posting sesuatu. Well, sekarang mari kita bahas tentang Nice Homework nya hehe.

Sejujurnya agak bingung ketika harus menentukan "salah satu jurusan yang ingin ditekuni di Universitas Kehidupan ini", sebenernya galau, mau mendalami tentang menulis atau masak, tapi setelah di pikir-pikir dan kemudian di pilih-pilih, ternyata aku ingin lebih mendalami jurusan "menulis/literatur". waktu kuliah dulu, aku senang baca buku, senang beli buku (buku fiksi atau non fiksi) tapi aku tidak terlalu sering menulis hehe. Sekarang? sudah masuk ke dunia kerja aku sudah lebih jarang hunting dan baca buku, rasanya males sekali. Makanya efeknya ga ada gairah untuk menulis hehe (parah banget ya :( ).

Sekarang, usia saya sudah mau memasuki usia 24 tahun, dan saya merasa saya masih butuh banyak ilmu, maka dari itu biasanya saya suka searching-searching materi yang memang saya butuhkan.Saya senang membaca tulisan-tulisan teman saya di medsos, terlebih jika tulisannya menginspirasi. Bayangkan, jika si pembaca tulisan kita mendapatkan kebermanfaatan dari tulisan kita, betapa itu akan menjadi tabungan aml bagi kita. Rasanya, kok "kepengen" ya tulisanku juga menginspirasi orang lain, yaa minimal menjadi pengingat / reminder untuk diri sendiri, walaupun memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menulis, tapi saya siap untuk mempelajarinya.

Berbicara tentang keinginan untuk kembali membangkitkan semangat untuk menulis, maka kita juga harus punya strategi tentang apa yang akan kita lakukan untuk mewujudkan cita-cita. Menurut saya, "partner terbaik" untuk menulis adalah dengan banyak membaca, arena dengan itu kita bisa mendaatkan banyak inspirasi untuk dijadikan bahan tulisan kita (bukan untuk tujuan plagiarism yaa). Begitupun untuk para pembicara  yang sering berbicara di depan umum, maka membaca adalah solusi terbaik untuk membantunya menambah konten-konten dan pembendaharaan katanya. Bedanya, para pembicara menuangkannya dalam bentuk verbal, sedangkan penulis menuangkannya dalam bentuk tulisan. Jadi tugas saya seakarang adalah "lebih rajin membaca". Dulu, waktu saya masih SD saya tidak mengerti pribahasa "Buku adalah jendela dunia". Kini saya mengerti kenapa buku disebut sebagai jendela dunia, karena lewat buku lah kita tahu tentang dunia walaupun di era sekarang (era digital) buku sudah bisa dikalahkan pamornya oleh internet, namun menurut saya sama saja.

setelah kita berbicara keinginan kita, kemudian strategi apa yang harus dilakukan untuk mencapai keinginan kita, maka kita juga tidak boleh lupa akan satu hal yaitu Adab menuntut ilmu yang harus kita perbaiki. Karena "ilmu merupakan prasyarat amal" bayangkan jika seseorang melakukan sesuatu tanpa ilmunya, akan seperti apa?. Maka dari itu saya ingin memperbaiki adab saya terlebih dalam hal menuntut ilmu. Adab pada diri sendiri yang harus segera saya perbaiki adalah "merasa lebih tahu dan lebih paham ketika ilmu itu disampikan. Terkadang, hati ini masih terdapat sifat sombong, ketika ada sesuatu yang disampaikan dan kita sudah tahu (walaupun sedikit) kita selalu merasa bahwa kita sudah mengetahui segalanya (pelajaran banget buat saya :( ). Maka dari itu saya harus menghargai ilmu walaupun sebesar biji zarah, karena pada hakikatnya tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat.

Jadi, mari kita untuk senantiasa Istiqomah untuk menuntut Ilmu (ilmu apapun itu asalkan bermanfaat untuk dunia dan akhirat) dengan selalu memperhatikan adabnya. Senang sekali bisa menulis lagiiii hwaaaaa, semoga NHW ini menjadi media saya untuk menyalurkan keinginan saya untuk melakukan "comeback"  dalam hal menulis, karena tulisanmu bisa mengubah dunia, semangat untuk terus menginspirasi.

Wassalamualaikum warohamtullohi wabarokaatu.
Tasik, 19 mei 2017

Melatih Kemandirian Day 7

Mempersiapkan bekal sendiri Assalamualaikum bunda dan calon Bunda, alhamdulillah udah masuk Day 7. Tapi kali ini hari minggu, dan aku li...