Selasa, 14 November 2017

Komunikasi Produktif Day 10

Partner : Olin

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Absen beberapa hari nih 😐😣 . Tali gapapa, lanjut aja nulisnya hehehe. Partner kali ini adalah Olin lagi hehehe. Seneng sekali ngobrol sama dia aku menerapkan beberapa semacam peraturan atau peringatan hahaha. 

Jadi begini ceritanya, Olin kan lahir dan dibesarkan sampai 7 tahun di Kalimantan Timur, tapi pas SD dia pindah ke Garut. Jadi memang butuh prnyesuaian, terlebih lagi anak kecil mudah sekali menangkap dan memproses bahasa karena pergaulan. Awal-awal di Garut, dia selalu mengikuti kata-kata yang di ucapkan teman-temannya padahal itu kasar, kemudian saya langsung memberikan noticed kepadanya bahwa itu bahasa kasar. Kemudian saya selalu menerapkan untuk selalu menggunakan doa sehari-hari dalam activity daily living misalnya ketika bersin, ketika makan, ketika keluar masuk kamar mandi, ketika hujan, ketika ada petir dan lainnya. 

Setiap kali kami mengobrol, lalu dia menggunakan kata yang kami anggap itu kata kata yang termasuk dalam noticed list misal "heeh" (iya),  saya langsung berkata "heeh? " kemudian dia langsung mengklarifikasi "muhun (iya dalam bhasa sunda halus) ". Dan tidak jarang saya juga di noticed oleh dia kalo menggunakan kata-kata yang termasuk noticed list words 😂😂😂😂, kadang suka lucuk jadinya. 

Kemarin cuaca sore hari hujan, dia kemudian bertanya pada saya, "Bi Asti kalo doa waktu hujan tuh gimana? " kemudian saya membantu mengingatnya "Allahumma Soyyiban Nafi'a". Begitu pun ketika ia bersin, kita harus membalas doanya, lucuk dan saya senang ternyata itu berhasil bisa ia terapkan di kehidupan sehari-hari. Maka membiasakan adalah tugas orang tua untuk anak-anaknya. Jadi ga sabar ingin punya anak hahaha. 

Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😊

Jumat, 10 November 2017

Komunikasi Produktif Day 9

Partner : Mamah

Assalamualikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Hari ke 9 ini kembali partner latihan nya mamah saya. Kalo ikutin emosi, kayanya pas banget dengan hari ini yang pas pulang kerja hujan gede, kebasahan semua dan lain-lainnya. Ditambah pas di rumah merasa "tersalahkan" hahaha. 

Jadi gini, kadang-kadang sepulang kerja saya menjemput Bapak saya ke tempat kerjanya. Bapak saya sudah bawa helm dari rumah. Waktu aaya pulang ke rumah, mamah saya bilang "lah ga bareng sama bapakmu? Emang kakakmu ga ngingetin?". Sontak saya kaget. Waduuh apa saya yang lupa atau kakak saya yang lupa. Tapi sejenak saya tidak menghiraukan dulu perkataan Ibu saya karena keadaan basah kuyup, saya langsung menuju ke kamar mandi. Padahal di kamar mandi sambil mikir hahaha. 

Sebenernya kalo ga di menej, hati ini bisa aja meledak-ledak ga karuan, udah mah keujanan malah di salahin hahaha. Tapi saya coba menghindari dulu percakapan dengan ke kamar mandi karena emang basah kuyup. Setelah selesai personal hygine saya keluar dan menjelaslan kalau hujan bapak pasti gamau dijemput, karena waktu itu juga pernah kejadian seperti ini (hujan besar) dan bapak menolak dijemput. Mamah saya masih mengomel karena takutnya bapak saya masih nunggu. 

Akhirnya saya beri saran untuk telp bapak, untuk memastikan bapak kalo bapak ga nunggu. Dan akhirnya setelah di telepon, bapak memang ga nungguin. Sesimple itu komunikasi bisa jadi sumber masalah dan perselisihan, dan sekecil itu bisa jadi media pembelajaran untul terus bersabar dan mengelola hati. Karena semakin lama orang tua kita juga semakin tua, dan emosinya semakin sensitif sehingga sebagai kita sebagai anak kita yang harus lebih mengerti 😊

Semangat untuk mengasah, practice makes perfect 😊

Kamis, 09 November 2017

Komunikasi Produktif Day 8

Partner : Olin

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Gak terasa ya udah masuk ke hari ke 8 aja, hari ini partner latihan komprod nya adalah Olin lagi hahaha. Karena memang aku paling senang berinteraksi dengan dia di rumah. Lumayan pelipur hati pelipur lara 😂

Mamahku di rumah buka warung kecil-kecilan yaa lumayan tambah kesel laah. Nah mamahku bilang dari siang Olin ngambilin es terus, mamah minta aku yang memperingatkan Olin. Akupun langsung eksekusi. Aku mengajak Olin ngobrol seperti biasa, santai aja. "Iiiih kamu kata Nenek dari siang jajan es terus yaaa? Hayoo ngaku.." sengaja saya membuat percakapannya santai saja. Lalu dia hanya senyum kaya anak yang kepergok 😂😂😂 "hehehe iyaaa....". Saya pun kembali menanggapi "kok masih makan es, padahal kemaren-kemaren udah sering mimisan berapa kali tuuh, tau ga penyebab hidungnya Olin berdarah kenapa?". Lalu dengan polosnya dia menjawab "karena panas-panasan kalo main".

Saya kemudian kembali meluruskan "Nih ya, bia Asti juga dulu waktu kecil sukaaaa sekali makan es soalnya enak, tapi makannya ga banyak-banyak soalnya Bi Asti tau kalau banyak-banyak ga baik, nanti bisa lebih sering pilek, dulu Nenek juga sering ingetin Bi Asti tapi Bi Asti nurut, akhirnya ga terlalu serong deh hidung nya berdarahnya". Aku berkata seperti itu sambil merendahkan intonasi suaraku dan tidak melepas kontak mata dengan nya, tentunya dengan ekspresi yang meyakinkan. Kemudian dia bertanya lagi "Oh jadi kalau nurut sama Nenek ga berdarah lagi hidungnya?" (dia bertanya dengan polosnya 😂). Akupun sembari menahan tawa menjawab "Iya dong, karena Bi Asti tau nenek ga akan melarang kalau itu baik buat Bi Asti, gitu juga nenek ke olin".

Sejenak si dia berfikir lalu berkata "iya olin juga mau nurut sama nenek biar hidungnya ga berdarah'. Hahahaa pengen ketawa dengernya, tapi dia sudah membuat kesepakatan yang katanya dia mau nurut sama nenek. Walaupun kadang kalo kumat, nanti dia pasti pura2 lupa atau pura2 ga dengar 😂😂😂. Yaa namanya juga anak-anak harus terus latihan untuk pembiasaan. 

Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😊

Rabu, 08 November 2017

Komunikasi Produktif Day 7

Partner : Pasien dan Keluarga Pasien


Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Hari ini partner komprod nya bukan dari anggota keluarga, tapi dari pihak yang memang bersinggungan dengan saya yaitu Pasien dan Keluarga Pasien. Karena profesi saya sebagai perawat luka, maka setiap hari saya bertemu dengan pasien dan melakukan komunikasi dengan pasien. 

Pasien saya mempunyai luka diabetes dengan penyulit pembuluh darah. Sehingga perlu untuk melakukan komunikasi guna meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai prognosis luka nya. Saya menyarankan pasien dan keluarga untuk konsul ke dokter bedah vaskuler (pembuluh darah) karena pasien terdapat penyulit pembuluh darah. Namun pasien dan keluarga mengatakan belum bisa ke dokter bedah vaskuler karena faktor keuangan. Saya mengerti, dan saya berusaha untuk menunjukan sikap empati kepada pasien sebagai perawatnya sambil saya melakukan kontak mata untuk meningkatkan trust. 

Sebumnya saya pernah konsul kepada senior saya mengenai luka arterial (dengan penyulit pembuluh darah arteri) namun keluarga tersandung faktor keuangan tidak bisa ke dokter bedah vaskuler. Senior saya pun menyarankan untuk makan tinggi protein dan omega 3 untuk menbantu kelancaran sirkulasi darah. Akhirnya saya menyarankan saran senior saya kepada pasien saya dengan intonasi nada yang lembut namun tidak terkesan mrmaksa. Dan akhirnya saya menyarankan pasien dan keluarga memutuskan untuk ke dokter penyakit dalam terlebih dahulu, minimal untuk dapat antiniotik karena lukanya infeksi juga. Alhamdulillah pasien dan keluarga mengikuti saran saya dengan berbekal surat konsul dari saya. 

Hal-hal kecil sangat penting di komunikasikan apalagi dalam tataran pelayanan kesehatan. Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😊

Selasa, 07 November 2017

Komunikasi Produktif Day 6

Partner : Bapak

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Alhamdulillah untuk Day 6 ini partner untuk Komprod nya adalah Bapak. Sebenernya agak canggung sekali, karena kami berdua bukan tipe yang senang membicarakan sesuatu berdua. Makanya ini langka terjadi dan mommen nya jadi mommen yang berharga hihi. 

Pagi-pagi saya sedang melihat marmut peliharaan keluarga kami yang beberapa hari lalu baru beranak 2 ekor, lucuuuuk sekali. Bapak saya memang senang sekali sama marmut itu, bahkan sampe dicium-cium saking gemesnya 😂. Nah waktu saya sedang liatin marmut-marmut itu datanglah bapak saya menghampiri. Pikir saya, saya harus memulai obrolan nih. Akhirnya saya memulai obrolan dengan "Ih lucuuu si Ona sama si Oni (anak marmut yang baru lahir), ini tuh dia lahiran nya kayanya malem-malem ya pak? " saya sengaja membuka percakapan dengan kalimat terbuka agar komunikasinya bisa dua arah. Bapak sayapun menanggapi dengan antusiasnya, karena memang tiap kali di tanya trntang marmutnya bapak saya selalu antusias. "Iya, tiba-tiba pagi udah ada, lagi makanin rumput, tuh liat tuh kaya gitu" jawab Bapak saya dengan semangat. 

Saya pun tidak berhenti sampai disitu, saya K mbali membuka percakapan terbuka "Tapi si Oni tuh bener-bener mirip bapaknya ya pak hahaha", bapak saya pun kembali merespon "Iya, kalo si Ona mirip banget sama Ibunya, nanti semoga bisa makin banyak, ntar bikin kandang yang lebih gede". Lalu saya timpali, "iya nih ini ber4 ga muat liat aja cuma segede gitu hahaha" dan bapak saya hanya tertawa melihat si marmutnya pada masuk ke kandang dalamnya waktu saya bilang itu. 

Buat saya, sulit sekali untuk memulai obrolan hangat dengan Bapak berdua, harus ada partner pihak ketiganya. Misalkan mamah atau Olin, jadi obrolan nya tuh ga canggung gitu. Kami (anak-anak mamah dan Bapak) memang tidak terlalu akrab dengan bapak sejak kecil karena memang watak bapak saya yang keras jadi kami segan. Ini jadi pelajaran juga untuk saya sih bagaimana nanti saya membiasakan membangun komunikasi dengan anak saya. 

Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😊

Senin, 06 November 2017

Komunikasi Produktif Day 5

Partner : Olin (Ponakan) 

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😍
Alhamdulillah gak kerasa ya udah masuk Day ke 5, kali ini partner nya Olin lagi hehe gapapa lah sembari latihan yaa 😁. Kebiasaanku kalau menghabiskan free time di malam hari salah satunya adalah bercerita sama Olin. Setelah ikut workshop mendongeng Kak Mul pas wisudaan matrikulasi batch 4 Garut jadi selalu semangat buat mendongeng walaupun ga se ekspresif Kak Mul hehe, tapi yang penting aku ingin menyampaikan isi dan hikmah nya. 

Hari ini saya, mamah dan kakak saya shaum. Beda-beda tujuan shaumnya tapi iftharnya ttep bareng hehehe. Sesudah ifthar dan makan bersama kami berkumpul di ruang tengah rumah, yaa sekedar bercerita dan menertawakan apa yang bisa di tertawakan. Termasuk, ibu saya yang memutar video lucu yang dikirim di grup keluarga besar, bapak saha sampe ketawa terpingkal-pingkal, saya yang liatnya jadi pengen ketawa 😂😂😂😂😂. Saat-saat seperti ini jadi mommen yang berharga buat saya 😍. Setelah video lucu itu selesai diputar, bapak saya mengganti ke video lain, yaiyu video tentang proses kematian dan hari kiamat,  bapak saya dan Olin menontonnya. Saya hanya mengamati saja, lalu saya berfikir, ada sesuatu yang bisa di selipkan dari video tersebut buat Olin dan juga buat pengingat untuk saya.

Setelah mereka selesai menonton video, Olin bertanya-tanya seputar videonya, terutama video bencana (kiamat shugro). Lalu saya ceritakan tentang proses kejadian kiamat kepadanya, kemudian bagaimana kehidupan setelah dunia, yaumul hisab, surga dan neraka walaupun belum tahu persis seperti apa karena belum pernah mengalami haha. Setelah bercerita selesai, karena saya belum shalat Isya, dan itu sudah pukul 19.30. Saya pun ingin mengajak Olin shalat Isya namun tidak dengan memaksanya, melainkan dengan membangun kesadarannya (kebetulan kan baru diceritain tuh proses hari kiamat dsb haha). Saya pun berkata "waduuuh Bi Asti belum shalat Isya, Bi Asti sahalat Isya dulu biar bisa masuk syurga". Sontak respon Olin pun apa coba?  "Olin juga mauu, Olin dulu Bi Asti". Aku menyeringai kesenengan melihat kelakuan nya, Alhamdulillah berarti kegiatan berceritaku membuahkan hasil, minimal membangun kesadarannya. Soalnya kadang dia cuma shalat Magrib (berjamaah di rumah dan Ashar kalo di sekolah agamanya hahaha dasar anak kecil). 

Aku ingin membangun awareness nya Olin lewat ceritaku (tapi bukan cerita yang mengada-ngada yaa, ceritanya bisa kita ambil hikmah dari siroh nabawiyah maupun shohabiyah), karena cerita juga bisa dijadikan jalan dakwah. Dan ternyata alhamdulillah, bisa jadi tidak bertahan lama namun harus selalu kita latih agar anak terbiasa. Menurutku ngobrol lewat bercerita juga salah satu bentuk komunikasi produktif, karena kita bisa menyampaikan maksud kita dalam bentuk yang lebih menarik, sehingga anak bisa menyerapnya dengan lebih mudah dan tanpa paksaan 😍.

Semangat untuk terus mengasah, practice makes perfect 😍

Minggu, 05 November 2017

Komunikasi Produktif Day 4

Partner : Olin (Ponakan) 

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda 😊
Wah untuk day 4 ini agak keteteran nih hehe, masih perlu belajar manajemen waktu tapi gapapa sambil berjalan ajaa. Hari ini partner nya Olin lagi, ponakanku hehehe. Karena memang lebih banyak interaksi dengan dia, kadang seneng jailin wkwk. 

Pagi-pagi Olin udah ngajakin terus ke Kherkof (pasar minggu gitu), sebenernya maleees banget buat pergi karena mau menikmati hari libur, menghindari keramaian dulu #tsaaah. Tapi kakakku tetep maksa aku untuk pergi nemenin olin, yaah apa daya soalnya kasian juga dia pengen jalan-jalan, pasti dia pengen maen pasir disana fikirku. Akhirnya cuuus lah kami ke kherkof. 

Ketika di perjalanan, aku membuat kesepakatan dengan Olin. Aku bilang "Sekarang bi Asti temenin, tali Olin nanti jangan rewel, jangan mau jajan macem-macem, kalau bi Asti bilang ga boleh harus nurut ya". Lalu dengan wajah penuh keyakinan dia menjawab "Iya". Aku berusaha aja untuk percaya, walau kadang dia suka tiba-tiba lupa kesepakatan di awal pas di lokasi tuh hahaha. 

Sampailah kami di lokasi, aku memarkir motor di luar lokasi, tepatnya depan Alfamart hehe karena malas parkir di dalam, penuuuh banget. Akhirnya kami menyebrang, sebelum masuk ke pintu masuk, ada bapak-bapak penjual buku mewarnai. Karena tau Olin suka mewarnai, bahkan dia berbakat loh kalo mewarnai rapiiiii banget. Aku berhenti di depan penjual nya, kemudian aku tawari dia mau ga? Dengan wajah kegirangan di mengangguk mau, iyalah udah pasti mau soalnya kesenengannya dia kan mewarnai hahaha. Lalu aku menanyakan harga bukunya,dan deal dengan harga 5.000 dapat 3 buah cihuuuy lumayan.

Saat Olin asyik pilih buku yang mana aja yang mau di beli, aku bikin kesepakatan lagi. "Olin, karena udah beli buku gambar ini, gimana kalo kita ga usah masuk? Biar kita bisa langsung pulang, Olin juga bisa cepet-cepet mewarnai, gimana? ". Sebenernya bukan apa-apa sih, karena aku malas berdesak-desakan di dalam hadeuuh hahaha. Tapi ponakan ku ini juga menyetujuinya Alhamdulillaaaah 😃.

Selepas selesai beli nuku mewarnai, kami pun lekas kembali ke tempat parkir, lalu dia tiba-tiba bilang "Bi Asti, ayo beli sesuatu buat mamih, Olin tuh mau Bi Asti dan Mamih bahagia. " mendengarnya saja aku ingin ketawa, kadang dia tuh suka lebay dalam kata-kata kalau hatinya senang macam gini hahaha. Akhirnya kami beli beberapa lotong martabak mini untuk dibawa ke rumah.  Dan ketika di rumah aku ceritakan kejadian ini pada kakaku, dan dia juga ketawa-krtawa lucu aja gitu hihi.

Seneng sih bisa berinteraksi dengan anak kecil, walaupun itu ponakan, apalagi anak sendiri #eaaa heeheh. Kadang sih kalau berkomunikasi sama anak kecil kita harus selalu inget sama materi komprod biar emosi nya ga langsung tiba-tiba melejit hehehe. Pembuatan kesepakatan yang bersifat pilihan juga lumayan membantu untuk mengarahkan si kecil hehe. 

Semangat untuk terus mengasah,  practice makes perfect 😍

Sabtu, 04 November 2017

Komunikasi Produktif Day 3

Partner : Teman Kerja (Via Grup Whats App)


Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda :)
Di game level 1 hari ketiga ini aku memilih untuk mempraktikan komunikasi produktifku dengan teman kerja (via grup di whats App) karena kami tersebar di unit-unit di kota-kota jawa barat. Sebetulnya grup ini beranggotakan teman kuliah yang di takdirkan Allah satu lapangan pekerjaan, walaupun kota nya berbeda-beda. Kami adalah perawat luka yang memberikan pelayanan kesrhatan berupa perawatan luka diabetes. Jadi paling yang paling banyak di bahas di grup itu yaa tentang luka perlukaan dan curcolan-curcolan cantik hihi.  

Tadi tiba-tiba siang menjelang sore, temanku D mencurahkan kekecewaan nya setelah dia membeli durian, dan ia agak kecewa (wajar manusiawi sih). Saat aku membaca D posting itu, sontak aku teringat kejadian yang baruuuuu saja (masih anget banget) saya alami. Sebuah kekecewaan tidak berfaedah kalo kata anak muda zaman Now hehehe. Aku pun menceritakannya di grup itu. 


Kira-kira seperti itulah aku menanggapinya. Bersyukur siih ada tempat untuk mencurahkan isi hati, walaupun apa yang kita alami itu hal sepele tapi kalau hati lagi gak terima yaa bisa beda rasanya. Intinya saat kejadian itu Nalarku sedang berada di tingkat terendah, dan emosi sedang berada di puncaknya haha. Yang aku rasakan setelah mencurahkan isi hati disana ploong, kemudian aku mengajak teman-temanku juga untuk sama-sama belajar mengelola emosi. Karena sebenarnya hal-hal seperti ini orang-orang sudah tahu ilmunya. Contohnya saja aku, padahal udah pernah dikasih di materi Bunsay yang pertama, tapi praktiknya? Masih harus terus latihan. Dan latihan itu butuh partner, partner untuk apa? Untuk saling mengingatkan 😊. Kalau ga mereka yang meningatkan, ya aku yang meningatkan mereka. Jadi saling mengingatkan untuk terus berfikir positif 😍.

Semangat untuk mengasah, practice makes perfect 😍

Jumat, 03 November 2017

Komunikasi Produktif Day 2

Partner : Ponakan (Olin) 

Assalamualaikum Bunda dan Calon Bunda :)
Di hari ke 2 game level 1 ini saya memilih ponakan sebagai partner untuk praktik komprod karena memang di rumah ponakan saya tinggal di rumah orang tua saya, jadi lumayan bisa dijadikan partner, lumayan itung-itung praktik sama anak sendiri. Ponakanku ini usianya 7 tahun, sedang masa-masanya senang bermain. Sepulang sekolah SD main, sepulang madrasah diniyyah sore main lagi, kadang harus sedikit dipaksa buat pulang bahkan kami tidak jarang berteriak bahkan menakut-nakuti 😂 (jangan ditiru yaa) 

Ya, olin ini anaknya aktif dan rasa penasaran nya tinggi. Kalau sama teman-temannya sekarang dia lagi musim main "sonlah" kalau di sunda, kalau bahasa Indonesia nya apa ya hehe. Jadi kalau di rumah pun dia maeeen sonlah terus sampe aku, mamahku, bapaku bahkan mamahnya berapa kali mengingatkan untuk diam tapi rasanya dia kaya ga denger 😂

Butuh taktik untuk bikin olin nurut, sebelum-sebelumnya biasanya kalau dia ga nurut kami menakut-nakuti nya dengan hantu (jangan ditiru yaaa hehe) tapi sekarang mulai diterapkan untuk tidak memakai taktik itu lagi, karena akibatnya dia jadi sedikit penakut. Karena Olin anaknya excited sekali kalau dikasih reward, maka untuk membuat dia nurut saya mencoba untuk menggunakan itu. Contohnya ketika dia tidak mau berbagi makanan, saya langsung punya ide 😎

Saya : "siapa yang anak pintar? "
Olin : "saya....." (sambil mengangkat tangan nya) 
Saya : "kalau anak pintar itu mau berbagi makanan dengan yang lain. "
Olin : (seketika dia langsung memberikan sepotong "teng teng" kepada ibu saya, padahal sebelumnya dia simpan sendiri 😂, "teng teng" tuh semacam kue gitu) 
Saya : "pintar leeh anak pintar ini, tos dulu doong 👋"
Olin : (dia toss dengan excitednya) 

Lalu saya terapkan setiap kali dia berulah, ketika gambar-gambarnya berantakan maka saya terapkan lagi taktik itu swhingga dia excited untuk membereskannya. Teknik ini lumayan nih bisa dipakai 😊. Sebagai reward nya aku berjanji untuk membacakan cerita nabi Yunus, dari tadi udah nagiiih terus minta di ceritain, tapi saya ngerjain dulu ini hehe. Saya kasih pengertian tante nya ngerjain tugas dulu, namanya tugas harus dikerjakan, Alhamdulillah dia mengerti walaupun sesekali nanyain lagi kapan seleseainya 😂😂😂

Semoga bisa terus praktik komprod dengan Anak (kakak) dulu, lebih baik dari hari ke hariiiii. Sudah dulu yaaa, kasian Olin mau diceritain Nabi Yusuf hehehe. Semangat untuk mengasah, practice makes perfect 😍

Kamis, 02 November 2017

Komunikasi Produktif Day 1

Partner : Mamah

Assalamualikum, hari ini udah mulai nih untuk praktik Komprod nya, sebenernya ingin sekali bikin family forum tapi kok kayanya canggung karena kebiasaan keluargaku yang memang agak kaku untuk membicarakan hal-hal serius dalam satu lingkaran kecil, padahal sebenernya bisa aja sih tapi saya masih merasa canggung (padahal sama orang tua sendiri ya haha). Insha Allah kalau memang hati sudah mantap dan ada kesempatan yang pas bisa dilakukan family forum tapi memang tidak se formal yang dibayangkan, semoga bisa yaa hehe.
Ya, partner latihan hari ini adalah Mamah, sebenernya pas pagi itu masih bingung gitu siapa ya yang akan dijadikan partner untuk practice komprod nya. Tapi memang qadarulloh hari ini ada kejadian kecil dan sepele yang bisa aku jadikan media latihan. Jadi begini, ceritanya dimulai dari saya yang hampir kesiangan masuk kerja sampe hectic bungkusin sarapan buat di klinik sampe ga menghiraukan apa yang dibilang sama mamah saya (lebih tepatnya bukan ga menghiraukan sih, tapi lebih tepatnya ga kedengeran karena saya sedang ga fokus). Hari ini merupakan harinya Mamah saya kontrol bulanan ke RS, tapi karena saya buru-buru buat berangkat kerja jadi tidak menyadari hal itu. Alhasil, pergilah saya ke tempat kerja. Hari ini ada 1 jadwal kontrol pasien dan pagi (nah ini yang bikin buru-buru haha), jam setengah 10 saya selesai perawatan pasien tersebut lalu saya langsung cuci alat. Ketika saya cuci alat bekas perawatan, handphone saya berdering, dari kejauhan saya lihat bahwa mamah saya yang telpon. Karena keadaan tidak memungkinkan untuk angkat telepon, akhirnya saya biarkan dahulu telepon nya dan menyelesaikan cuci alat dulu. Setelah saya selesai mencuci alat, saya telpon balik mamah saya (dan sudah ada firasat, saya lupa bawa surat kontrol amah saya untuk di daftarin). Kemudian saya angkat.
Asti : "Assalamualaikum Ma?"
Mamah : "Waalaikumsalam, ari asti ieu surat kontrol mamah naha nteu dibawa?" (Artinya : Waalaikumsalam, ih asti ini kok surat kontrol mamah kenapa ga dibawa).  (Dengan nada yang lumayan tinggi karena mungkin kesel)
Asti : "Ya ampun abi lupa ma, emang tadi mamah bilang nya?" (Artinya : Ya ampun aku lupa ma, emang tadi mamah bilang ya?). (Berusaha tetap stay cool dengan tidak terlalu mengambil hati dan mengontrol intonasi suara)
Mamah : "Kan tadi cek mamah ge eta surat kontrol di deket TV, teu diperhatikeun meuereun." (Artinya : Kan tadi mamah bilang juga itu surat kontrol di deket TV, ga diperhatiin kali ya). (Dengan ekspresi sedikit dongkol).
Sebenernya aku ga merasa bahwa mamah bilang seperti itu atau mengingatkan tentang surat kontrol, tapi mungkin memang aku yang sedang tidak fokus karena terburu-buru. Percakapan kembali berelangsung.
Asti : "Oh iya meureun tadi teu kadengeran, yaudah sok kadieukeun atuh ka si teh ina, engke ku abi di daftarkeun ka RS." (Artinya : oh iya kali ya tadi ga kedengeran, yaudah siniin sama teh ina, ntar aku yang daftarin ke RS nya). (Dengan tetap menjaga intonasi suara agar tidak membludak, padahal biasanya aku selalu terpancing untuk meninggikan suara kalau merasa disalahkan).
Mamah : "Yaudah." (Langsung menutup telepon nya)
Sebenernya agak gimana gitu, wah mamah marah nih. Tapi dari percakapan telepon yang singkat ini aku menyadari bahwa dari sudut pandang mamahku bisa jadi beliau merasa kesal karena saya tidak menghiraukan perkataannya, dari sudut pandangku bisa saja aku berfikir "ah aku ga salah, ga ngerasa di suruh bawa surat kontrol kok" tapi aku lebih memilih untuk menggunakan kaidah 7-38-55 yaitu memperkecil peluang emosi untuk digunakan saat percakapan, merendahkan intonasi suara dan menggunakan body language yang tenang walaupun sebenarnya posisi saya dan lawan bicara sedang tidak berhadapan, tapi saya posisikan seperti Mamah saya sedang berada di depan saya. Karena body language juga bisa mempengaruhi naik turunnya intonasi suara.

Setelah beberapa saat aku telepon lagi mamahku untuk menanyakan nanti berangkat kontrol jam berapa, dan saat aku telepon nada suara beliau tidak setinggi ketika pertama kali di telepon. Jadi udah biasa aja, bahkan sampe mintain jemput pas pulang kontrol sekalian ulang hehe gapapa sih. Tapi emang benar sih ketika lawan bicara kita sedang mengedepankan emosi daripada nalarnya, maka jangan kita lawan dengan emosi lagi. Daan pemilihan timing juga penting, choose the right time itu bener-bener bisa kita terapkan, its work bangeeet.

Semangat untuk terus belajar, practice makes perfect :)

Melatih Kemandirian Day 7

Mempersiapkan bekal sendiri Assalamualaikum bunda dan calon Bunda, alhamdulillah udah masuk Day 7. Tapi kali ini hari minggu, dan aku li...