puisi ini dideklamasikan oleh kaka tingkatku yang waktu itu menjabar sebagai evaluator (komisi disiplin) sedih campur haru rasanya waktu mendengar teh Tiara mendeklamasikan puisi ini dengan keadaan ruangan yang gelap dan tiba-tiba akang teteh eval membawa lilin dan diberikanlah lilin itu pada kami...masih kerasa sedihnya T________T
gini puisinya :
Sabtu Pagi, semestinya kau meresap kopi atau roti dengan selai favorit stroberi, bukannya membuka paksa mata karena alarm yang bernyanyi terlalu dini
Jum'at malam, saat manusia lain menjumput selimut di malam larut, kau berkutat mencabut buku butut, dan tenggelam karena kalut
Bukan mau kami de, menderamu sekeras itu, sampai tulang kaki daging tangan kau sumpali sampai kaku
Bukan ingin sebenarnya, memasang wajah menderang perang menjawab salam sapa setengah garang
Apel pagi, kami sangsi ada yang bergemerutuk gigi karena tak sempat sarapan pagi
pemeriksaan tugas, kami cemas ada yang barang yang tetas karena terlalu bergegas
mobilisasi ruangan, kami berangan bisa menyambut kedatangan setidaknya sedikit senyuman
ishoma, kami bertanya" apakah makan, istirahat, dan perjuanganmu berbanding sama, lalu mengulur waktu lebih lama.
materi, kami berseri kala kau mengacung jari dengan berani dan tegak berdiri
Evaluasi, kami merinding ngeri jika perbaikan kami mengataimu terlalu nyeri
kami mengerti, air mata yang tak sempat terbuang karena kami ini, tidak gampang disudahi
kami tahu, genangan keringat di bahu dan sepatu karena tugas selaksa itu, tidak mudah jadi masa lalu
tapi, ini craa kami mengasihi
jalan kami memberi apa yang tidak sekasat mata materi
cara kami berbagi apa yang sulit dimiliki
sebentuk cinta kami,
untuk adik yang baru memulai menapak negeri,
08 Oktober 2011
Tiara Rachmawati
gini puisinya :
Sabtu Pagi, semestinya kau meresap kopi atau roti dengan selai favorit stroberi, bukannya membuka paksa mata karena alarm yang bernyanyi terlalu dini
Jum'at malam, saat manusia lain menjumput selimut di malam larut, kau berkutat mencabut buku butut, dan tenggelam karena kalut
Bukan mau kami de, menderamu sekeras itu, sampai tulang kaki daging tangan kau sumpali sampai kaku
Bukan ingin sebenarnya, memasang wajah menderang perang menjawab salam sapa setengah garang
Apel pagi, kami sangsi ada yang bergemerutuk gigi karena tak sempat sarapan pagi
pemeriksaan tugas, kami cemas ada yang barang yang tetas karena terlalu bergegas
mobilisasi ruangan, kami berangan bisa menyambut kedatangan setidaknya sedikit senyuman
ishoma, kami bertanya" apakah makan, istirahat, dan perjuanganmu berbanding sama, lalu mengulur waktu lebih lama.
materi, kami berseri kala kau mengacung jari dengan berani dan tegak berdiri
Evaluasi, kami merinding ngeri jika perbaikan kami mengataimu terlalu nyeri
kami mengerti, air mata yang tak sempat terbuang karena kami ini, tidak gampang disudahi
kami tahu, genangan keringat di bahu dan sepatu karena tugas selaksa itu, tidak mudah jadi masa lalu
tapi, ini craa kami mengasihi
jalan kami memberi apa yang tidak sekasat mata materi
cara kami berbagi apa yang sulit dimiliki
sebentuk cinta kami,
untuk adik yang baru memulai menapak negeri,
08 Oktober 2011
Tiara Rachmawati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar